GMIT Respon Polemik Pembangunan SPBBU di ATL

0
277

Ketua MS GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon, merespon polemik rencana pembangunan SPBBU oleh PT. Ombay Sukses Persada Kalabahi di Desa Waisika, Alor Timur Laut (ATL). Bagaimana pendapatnya?

Dihubungi media ini, Rabu, (23/5/2019), Pdt. Mery Kolimon menyebut, GMIT sedang mengikuti secara cermat wacana pembangunan SPBBU di Desa Waisika, ATL.

Karena, isu pembangunan SPBBU tidak saja bertentangan dengan visi lingkungan hidup GMIT, tapi juga berdampak pada stabilitas sosial kehidupan warga gereja di ATL.

Menanggapi wacana tersebut, Pdt. Mery Kolimon mengatakan, dirinya sudah berkordinasi dengan Ketua Klasis ATL Pdt. Gerson Famau, S.Th dan para ketua klasis se-tribuana, untuk menyikapi polemik pembangunan SPBBU di ATL.

“Begitu dengar informasi, saya sudah kontak KMK ATL dan kawan-kawan KMK se-tribuana. Kami bilang bahwa, para Pendeta musti duduk bersama merumuskan sikap agar itu nanti kita bicarakan dengan pemerintah kabupaten,” kata Pdt. Mery.

Sinode GMIT saat ini kata Mery, belum mengambil sikap karena masih menunggu laporan atau hasil kajian dari KMK ATL dan para ketua klasis se-tribuana.

“Kami di Majelis Sinode masih menunggu. Karena kami dengar berita tapi kami tidak di lapangan. Yang di lapangan itu teman-teman Pdt di Alor Timur Laut.”

“Kami masih menunggu laporan dari kawan-kawan di ATL. Kami minta supaya bapak Pdt Gerson dan teman-teman Pdt, mereka duduk dan merumuskan sikap, sehingga atas dasar itu kami bisa mendukung apa yang jemaat pikirkan mengenai isu (pembangunan SPBBU) di atas,” ujar Pdt. Mery.

Sebelumnya, salah satu pengurus gereja, Nansi Salang, mengatakan, gereja-gereja di ATL sudah warta mimbar pada ibadah Minggu, 19 Mei 2019. Warta itu isinya, menolak rencana pembangunan SPBBU oleh pemerintah dan pengusaha di Desa Waisika, ATL.

“Minggu kemarin sudah warta mimbar di gereja. Prinsipnya gereja ikut menolak pembangunan SPBBU di lokasi sumber mata air. Karena sawah di Kemang itu ada juga milik gereja GMIT,” ungkapnya.

Informasi yang dihimpun media ini, lahan pertanian sawah di Kemang (depan kantor Camat ATL) dulunya dibuka oleh GMIT. Sekitar tahun 1960-an. Di masa Pdt. Domi Adang. Sawah itu kemudian menjadi sumber kehidupan warga gereja di ATL. Bahkan mayoritas lahan sawah tersebut sebagian besar milik GMIT hingga saat ini.

Wacana pembangunan SPBBU di Desa Waisika, ATL, sebelumnya ditolak petani dan mahasiswa. Sebab, lokasi tersebut berdekatan dengan sumber mata air yang mengairi sawah petani di Kemang. Keberadaan SPBBU ditakuti mencemarkan lingkungan dan sawah petani.

Meskipun mendapat protes dari petani dan mahasiswa serta belum adanya izin AMDAL dari DLHD tetapi Camat ATL Tertius Lanmai, SH, memastikan, Bupati Alor Drs. Amon Djobo sudah menginstruksikan melanjutkan pembangunan SPBBU.

“Kemarin Bupati naik, arahkan tetap lanjut. Bagi yang merasa dirugikan, proses hukum. Demo-demo juga beliau sudah tidak terima lagi.”

Ia menegaskan yang berwenang melakukan kajian dan memutuskan kelanjutan pembangunan SPBBU di Desa Waisika adalah pemerintah. Bukan gereja.

“Dengar dari siapa bilang pihak gereja ada melakukan penolakan? Saya mau tanya, pertimbangan teknis itu kewenangannya ada di pemerintah atau pihak gereja? Kalau omong begini saya kasih mati (telepon) saja. Jangan libatkan saya dalam ini masalah. Sejauh ini belum ada penolakan dari gereja yang masuk ke pemerintah. Saya baru telepon KMK (tidak ada itu). Kami ini mitra kerja. Siapa oknum yang atas nama gereja?” pungkas Camat Tertius.

Reporter: Demas Mautuka