Bos PT. Ombay Sebut SPBBU ATL Tak Bakal Ada Limbah

0
249

Bos PT. Ombay Sukses Persada Kalabahi, Enthon Jodjana. 

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Pemilik PT. Ombay Sukses Persada Kalabahi, Enthon Jodjana menyebut, pembangunan SPBBU di Desa Waisika Alor Timur Laut (ATL), tidak akan menghasilkan limbah. Sebab, teknologi yang dipakai untuk mengantisipasi kebocoran tangki, tentunya jauh lebih canggih.

“Nanti saya pulang Alor kita bisa ketemu. Sayang ketidaktahuan bahwa pembangunan SPBBU bukan ada limbah minyak. Kita sudah bangun SPBBU Air Kenari 25 tahun, apakah ada tanaman di sekitarnya tidak bisa tumbuh? Apakah SPBBU di pinggir laut (depan kantor DKP Alor) ikan-ikan pada mati?” tulis Bos Enthon via WA kepada wartawan, sambil mengaku saat ini dirinya berada di luar negeri.

“Kalau tengky timbun bocor maka SPBBU bangkrut, tutup memang. Tidak masuk akal konstruksi tengky semua sudah standart. Kita punya SPBBU sudah 25 tahun lebih, apakah ada pencemaran lingkungan? Teknologi sekarang sudah jauh lebih canggih dari 25 tahun lalu,” jelas Bos Enthon.

Ia menerangkan, pembangunan SPBBU merupakan standar Pertamina. Kontraktor yang mengerjakan pun ditunjuk oleh PT. Pertamina. Enthon bilang, rencana pembangunan SPBBU di ATL oleh PT. Ombay Sukses Persada merupakan bentuk dukungan kepada program pemerintah pusat; satu harga BBM di seluruh Indonesia.

“Tidak semberangan membangun SPBBU; di pinggir patai Alor kecil, di Binongko, apakah ada menganggu lingkungan? Tapi semua kita serahkan ke pemerintah mau bangun Desa Waisika sesuai program pusat satu harga seluruh Indonesia, kami dukung,” katanya, Selasa (21/5).

Tentang adanya protes warga ATL karena pembangunan SPBBU berdekatan dengan sumber mata air yang mengairi pertanian sawah, Enthon, menegaskan, pemindahan lokasi tidak semudah itu.

“Urusan tidak semudah itu,” katanya, singkat.

Sebelumnya, petani dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Lingkungan Hidup Kabupaten Alor, Provinsi NTT, menolak pembangunan SPBBU di Desa Waisika, ATL, karena berada di wilayah sumber mata air. Dikhawatirkan mencemarkan sawah dan tanaman perkebunan petani serta membunuh ekosistem alam.

Izin UKL, UPL atau AMDAL pun belum dikeluarkan pemerintah, namun perusahaan sudah beroperasi membersihkan tanaman dan menebang pohon kenari di lokasi tersebut.

Reporter: Demas Mautuka