Semua Rumput Laut di Pantar Barat Laut Mati Terserang Penyakit

0
128

Rumput laut di Pantar Barat Laut yang terserang penyakit. (Foto: istimewa). 

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Ratusan hektar rumput laut di Kecamatan Pantar Barat Laut (PBL) mati terserang penyakit. Sejauh ini belum ada upaya penanggulangan dari pemerintah.

“Seluruh rumput laut di Kecamatan Pantar Barat Laut, mati semua. Di pesisir itu terserang semua. Termasuk Marica, Wolu, Pulau Kangge, Beangonong yang ada budidaya, itu kena penyakit semua,” ujar putra BPL Ridwan Umar Leky, via ponsel kepada wartawan Sabtu (4/5/2019) di PBL.

Penyebabnya, diduga terserang ikan agar. Awalnya ikan halus itu naik memakan kulit luar agar-agar rumput laut. Perlahan mati. “Dia (ikan agar) itu mulai makan kulit luar rumput laut sampai ke pohon. Bentuk (rumput laut)nya putih lalu mati,” katanya.

Selain itu, penyebab lainnya diduga disebabkan oleh lahar bawah laut. “Lahar itu membuat air laut tercemar dan membuat rumput laut berwarna putih. Kualitasnya (rumput laut), buruk,” ucapnya, menambahkan.

Serangan larva dan ikan tersebut kata Ridwan, membuat produksi petani rumput laut di PBL, anjlok. Kini petani kesulitan bibit untuk budidaya kembali.

“Biasa kalau produksi itu, waringnya penuh. Sekarang tidak ada lagi. Produksi anjlok akibat penyakit itu,” jelasnya.

Ridwan menyebut, sejauh ini belum ada upaya dari pemerintah untuk menanggulangi masalah itu. Kini masyarakat kesulitan bibit rumput laut.

“Belum ada upaya dari pemerintah. Sekarang ini masyarakat kesulitan bibit. Ya, kita harap ada perhatian. Karena rumput laut ini sangat menolong petani sekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga,” pinta Ridwan yang juga petani rumput laut di PBL itu.

*Rumput laut di PBL yang terserang penyakit. 

DKP: Belum Ada Obat Pembasmi Penyakit Rumput Laut di Alor

Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikan Kabupaten Alor, Mesak Blegur menjelaskan, penyakit yang menyerang rumput laut di PBL adalah ice-ice atau batang putih. Penyakit tersebut biasanya selalu terjadi setiap tahun sekitar bulan April sampai Juni, sebagai akibat dari perubahan parameter perairan, juga karena bakteri.

“Sampai saat ini belum ditemukan teknolgi untuk mengatasi penyakit ini. Kecuali perlakuan terhadap sarana budidaya oleh pembudidaya, juga melakukan pergantian bibit yang di budidaya. Ini kejadian rutin yg selalu terjadi,” tutur Sekdis Mesak.

“Para pembudidaya juga sudah tahu cara penanganannya. Biasanya mereka menjemur tali rumput budidaya rumput laut atau menggantikan dengan tali baru, juga menggantikan bibit rumput laut,” lanjut dia.

Mesak Blegur mengaku, sejauh ini belum ada upaya dari pemerintah untuk menanggulangi masalah tersebut. Sebab, penyakit itu tidak hanya terjadi di Alor tapi juga di semua daerah. Sifatnya penyakit musiman.

“Tidak ada dia punya obat. Penanggulangannya dengan perlakuan di atas. (Penyakit) Ini terjadi rutin. Tidak saja di Alor tapi di semua daerah sama. Ini sebagai dampak dari peralihan musim, sehingga parameter perairan juga mengalami perubahan,” tutup Sekdis Mesak.

Reporter: Demas Mautuka