Pilpres: Hamba yang Menang

0
223

Oleh: Michael Kupeilang, S.Pd

“Percayalah, Allah tidak akan salah memilih pundak. Siapapun yang menjadi pemimpin kita itulah pilihan Allah. Bukan pilihan kita. Jika Allah yang memilih maka percayalah bahwa kita sudah menjadi hamba yang menang.”

Akhir-akhir ini kita dibuat pusing oleh perang saudara di media sosial. Apalagi kalau bukan masalah Pilpres, dan Pileg (Pemilihan umum serentak). Padahal pemilu sudah selesai, tapi hawa panasnya masih terasa hingga sekarang. Awalnya aku pikir setelah tanggal 17 April suasana bakalan adem kembali, tidak ada 01 atau 02 lagi, yang ada kita adalah Indonesia. Ternyata dugaanku salah, justru malah bertambah sangat panas.

Kedua kubu merasa paling benar dan masih saling klaim kemenangan. Okelah di sini aku sendiri memang pendukung 01 tapi yang jelas siapapun yang menang itulah pemimpin rakyat, dan aku termasuk rakyat. Klaim mengklaim sudah lumrah rupanya, padahal keputusan dari sang wasit (baca: KPU) belum ada. Pihak satu menyatakan menang karena melihat hasil Quick Count dan satunya menyatakan menang karena Real Count internal. Lalu siapa yang salah? Keduanya tidak salah jika semuanya bertindak tenang dan bisa menahan diri. Okelah semisal salah satu pihak merasa menang, alangkah baiknya tidak perlu mendeklarasikan dirinya terlebih dahulu. Tenang saja, kan nanti bakalan diumumkan oleh sang wasit.

Tidak bermaksud menyalahkan salah satu pihak, tapi alangkah baiknya para elite tidak perlu untuk saling memprovokasi. Ingat loh, kalau yang di atas bisa adem yang bawah pasti bisa ayem kok. Kita itu mencari pemimpin, bukan mencari penguasa bro.

Nah, ada banyak pejuang yang gugur dalam menyukseskan pemilihan umum tersebut. Sebaiknya kita mendoakan agar arwah mereka dapat diterima di sisi Tuhan, dan mereka berhak mendapatkan gelar Pahlawan Demokrasi. Karena mereka yang rela memberikan hidup mereka demi tercapainya demokrasi yang sesungguhnya di Negeri ini. Namun kadang kita lupa akan jasa mereka yang telah mereka korbankan, tapi malah kita menghianati jasa mereka dengan melecehkan demokrasi ini.

Jujur di sini aku merasa menjadi hamba yang menang. Siapapun yang terpilih aku tetap merasa menang. Loh kenapa? Ya, walaupun aku pendukung salah satu calon, tapi selama masa kampanye sampai sekarang tidak ada satu patah katapun aku menjelek-jelekan atau bahkan memaki calon yang tidak aku dukung. Karena aku berprinsip, semua yang aku lakukan akan diminta pertanggung jawabanya kelak ketika di akhirat. Aku juga mikir, buat apa saling memaki atau memfitnah, toh pada akhirnya siapapun yang terpilih akan menjadi pemimpinku.

Pemimpin itu cerminan dari rakyatnya loh yah. Jika rakyatnya baik Puji Tuhan pemimpinya pun baik. Nah, kalau kita sebagai rakyat saja tidak baik, bagaimana pemimpin kita akan baik?

Sudahlah, kita sebagai rakyat alangkah baiknya tidak memperkeruh masalah yang sudah ada. Tinggal ikuti mekanisme yang ada. Dari pada kita ribut terus menenerus mendingan kita saling lempar senyuman dan saling merangkul. Kalo kemarin saat kampanye mungkin saling bermusuhan dengan tetangga, teman atau bahkan saudara. Saatnya kita merajut kembali rantai persaudaraan yang sudah ada lagi. Saling minta maaf dan memaafkan. Mendingan gak usah deh posting-posting di medsos yang dapat menimbulkan perpecahan kembali. Tahan jarinya, tahan mulutnya. Marilah kembali ke budaya kita, budaya saling berbuat baik.

Percayalah, Allah tidak akan salah memilih pundak. Siapapun yang menjadi pemimpin kita itulah pilihan Allah. Bukan pilihan kita. Jika Allah yang memilih maka percayalah bahwa kita sudah menjadi hamba yang menang.

*Penulis, Alumnus FKIP UKAW Kupang. Tinggal di Papua.