Ini Masalah Pokok Antrian Obat di RSUD Kalabahi Berjam-Jam

0
238

Kantor RSUD Kalabahi 

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Pemerintah mengakui lambannya pelayanan obat-obatan di Apotik RSUD Kalabahi, selama ini.

Asisten II Setda Alor Dominggus Asadama menyebut, faktor lambannya pelayanan obat di RSUD diakibatkan sistem pelayanan yang buruk. Bukan masalah kekurangan tenaga Apoteker.

“Tenaga (Apoteker) kita (di RSUD) cukup. Kan ada pergantian shift. Hanya sistem (pelayanan obat) yang perlu kita kelola lagi,” ujar Dominggus seusai sambutan di acara Pelantikan Pengurus Ikatan Apoteker Indonesia Kabupaten Alor, Sabtu (6/4) di aula Kopdit Citra Hidup, Kalabahi.

Asisten II membeberkan bahwa ketersediaan stok obat-obatan untuk kebutuhan RSUD selama ini, cukup. Namun, sistem/prosedur pelayanan obat-obatan yang belum ditata secara baik.

“Ketersediaan obat cukup. Hanya prosedur masuk keluar obat itu yang harus kita tingkatkan. Karena kita tidak bisa, oh obat ada taru di situ jadi kita langsung pergi ambil. Tidak begitu. Kan ada mekanisme. Itu saja yang membuat (keluarga pasien) menunggu lama,” katanya.

Kendati demikian, Dominggus memastikan ke depan pemerintah akan benahi sistem pelayanan obat-obatan di RSUD, agar ke depan keluarga pasien tidak lagi antrian hingga 3-4 jam.

RSUD Kurang Tenaga Apoteker

Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan, Ikatan Apoteker Cabang Alor, Mangguana Patuli, S.Si.,Apt, mengatakan, jumlah Apoteker yang kini bekerja di Alor sebanyak 17 orang. Jumlah tersebut menurut dia, jauh dari kebutuhan.

“Anggota Apoteker di Alor ini 17 orang saja. Saya ke Alor jadi orang Apoteker keempat. Waktu itu Alor hanya 3 orang Apoteker saja,” kata ibunda Angelo Lucio Djahamou itu.

Mangguana bilang, jumlah 17 Apoteker dinilai belum cukup penuhi kebutuhan fasilitas kesehatan di Alor, temasuk tenaga Apoteker yang bertugas di RSUD Kalabahi. Itu sebabnya pelayanan obat-obatan lambat hingga berjam-jam.

“Mengapa kurang? Karena RSUD saja itu idealnya butuh 10 orang Apoteker. Puskesmas butuh, minimal 1 sampai 2 orang. Jumlah puskesmas kita kan banyak. Ada belasan. Tentu saja tenaganya (Apoteker) kurang. RSUD juga Apotekernya kurang,” ungkapnya.

Ia menyoroti prosedur pelayanan obat-obatan di RSUD Kalabahi, yang tergolong tidak sesuai prosedur. “Obat-obat itu semuanya harus diawasi petugas Apoteker. Mulai dari unit-unit, itu harus diawasi. Jangan resep obat itu dikasih keluarga pasien ambil sendiri,” saran dia.

Tentang kesejahteraan Apoteker, Mangguana menyebut, upah tenaga Apoteker masih kurang. Ada yang gajinya masih jauh dari standar UMP NTT.

“Waktu saya masih dikontrak Kemenkes, gaji saya Rp.6 juta/bulan. Sehabis kontrak, saya masuk kontrak daerah, itu gaji saya Rp.750 ribu/bulan saja. Saya kasih kembali ke daerah. Saya tidak ambil gaji. Sekarang ada teman yang gajinya hanya Rp.500 ribu/bulan. Sedih sekali,” pungkasnya.

Mangguana berharap, ke depan pemerintah bisa memperhatikan upah tenaga Apoteker agar minimal setara UMP NTT Rp.1.793.293,-/bulan. “Kita harap begitu. Karena Apoteker, kerjanya setingkat dokter. Yang ahli obat-obatan kan ya Apoteker. Jadi profesi mereka perlu dihargai,” tutup dia.

Reporter: Demas Mautuka