Nikodemus Oko: Saya Kerja di PT Ombay Sejak dari Jaman Batu

0
453

Nikodemus Oko 

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Karyawan PT. Ombay Sukses Persada Kalabahi Nikodemus Oko dipecat Direktur Perusahaan IR. Surya Wonotirto, 8 Maret 2019. Seperti apa kisahnya sejak ia bekerja di PT terkaya milik Enthon Jodjana itu?

Kepada media ini, Nikodemus yang bekerja menjual BBM jenis Solar dan Bensin di SPBBU Air Kenari, mengaku kesal. Sebab, sudah 36 tahun ia mengabdikan diri untuk perusahaan, namun diberhentikan dengan penuh rekayasa dari sang direktur.

Pria beranak 3 dan cucu 3 orang itu bertutur, dirinya bekerja di PT. OSP semenjak jaman batu. Sekitar tahun 1983. Dalam artian bahwa, di jaman itu belum ada sejengkal jalan raya di Kabupaten Alor Provinsi NTT yang di aspal. Jalanan masih bebatuan.

“Saya masuk kerja di Enthon Jodjana (Perusahaan Firma Ombay. Sekarang PT.OSP) sejak tahun 1983. Masih jaman batu. Belum ada jalan satu jengkal yang di aspal,” ujar Nikodemus Oko, Sabtu (23/3) di kediamannya, Lanbow, Kalabahi.

Selain jalan umum yang belum diaspal, Nikodemus menyebut, kenderaan yang beroperasi di Alor pun masih terhitung sedikit. Jumlahnya, langka. Sekitar 20 unit, baik roda dua maupun roda empat.

Nikodemus bilang bahwa, jaman itu, mobil-mobil roda empat yang beroperasi, mesinnya masih gunakan engkol. Manual. Begitupun sepeda motor. Tidak selayaknya mobil dan sepeda motor merek Suzuki, Yamaha, Honda, produk asing saat ini.

“Truk-truk mesinnya pakai engkol. Jadi sopir-sopir itu badannya besar-besar. Bertenaga. Itu baru bisa engkol mesin. Mesin mobil taru di depan. Jadi mau kasih bunyi berarti sopir turun dan engkol bunyi baru jalan, begitu. Sekarang enak, star pakai kunci saja,” katanya.

“Seingat saya waktu itu truknya milik Dinas PU dan pengusaha di Alor. Bos Enthon juga punya truk. Truk milik Ethon biasa kalau jalan, tidak ada polisi yang berani tilang. Jumlah truk di Alor sekitar 20-an. Ada panser juga. Kalau motor ya dulu motor Mantri yang tengki besar. Itu di rumah sakit. Dipakai Mantri untuk layani orang sakit (pasien). Motor dulu itu sekarang ada satu di bapak Opa Kaat. Masih ada,” kisah Nikodemus.

Jual BBM Pakai Ember

Nikodemus bertutur, semua mobil dan motor yang beroperasi di Alor, mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Firma Ombay, Bos Enthon Jodjana. Nikodemus penjualnya. Menjual BBM menggunakan jerigen dan ember. Belum ada Satu pun SPBBU di Alor.

“Jadi begitu minyak masuk, tampung di tengki besi yang besar. Kita pompa minyaknya ke penampung di atas baru buka kerannya di bawah kalau mau jual. Tampung di ember dan jerigen baru kita jual. Semua kenderaan beli di situ,” kata Niko.

Ia menyebut, waktu itu stok BBM yang terjual sehari bisa habis sekitar 20 drum (berukuran kecil). Karena kenderaan yang membeli, sedikit. “Kadang saya duduk sampai mengantuk-mengantuk baru ada satu kenderaan masuk, isi minyak. Begitu setiap hari. Sekarang banyak orang jual BBM di mana-mana.”

Salmon Oko, anak sulung Nikodemus Oko menambahkan, ayahnya bekerja di PT.OSP sejak ia baru lahir. 36 tahun lalu. Salmon bilang, ayahnya setia bekerja dedikasikan diri kepada Enthon Jodjana. Masuk dan pulang kantor sesuai jam kerja.

Masih kecil, Salmon terkadang cemburu pada ayahnya. Karena ayahnya bekerja masuk kantor pagi-pagi dan pulang malam hari. Wajah ayahnya pun hampir ia tidak mengenalnya. Waktu itu, Salmon kurang mendapat perhatian dari ayah. Dia lebih dekat dengan ibunya.

“Bapak kerja pas saya lahir. Waktu masih kecil, bapak bangun siap diri dan pergi kerja itu sekitar jam 4 dini hari. Pagi-pagi. Saya masih tidur bapak sudah pergi kerja. Begitupun pulang, sekitar jam 8 malam. Setiap hari begitu. Jadi masih kecil itu saya hampir tidak kenal bapak. Karena pagi sudah hilang, malam pulang saya sudah tidur. Jadi kami lebih dekat dengan mama. Kasih sayang mama lebih terasa, dulu,” ujarnya, terharu.

Kini PT. Ombay Sukses Persada dikenal masyarakat sebagai perusahaan terkaya raya di Kabupaten Alor. Asetnya ada di mana-mana. Sebut nama Enthon Jodjana, sontak ada di pikiran orang bahwa ia pengusaha kaya.

Enthon juga disebut-sebut menyewa kapal angkut barang. Kapal antar pulau yang biasanya pemasok sembako, BBM, bahan material non lokal bagi sekitar 200 ribu penduduk di Alor. Ia pun yang memasukan pesawat TransNusa di Alor, rute penerbangan tujuan Kalabahi-Kupang, (PP).

Riwayat Pekerjaan Nikodemus Oko 

Oktober 1983, Nikodemus Oko mulai bekerja sebagai karyawan di Perusahaan Firma Ombay (sekarang PT. Ombay Sukses Persada Kalabahi). Pemilik perusahaan Enthon Jodjana. Alamat perusahaan Jl. Wolter Monginsidi, Kelurahan Kalabahi Tengah Kecamatan Teluk Mutiara.

Saat itu Nikodemus memasukan lamaran dan diterima sebagai karyawan di Perusahaan Firma Ombay. Waktu itu tidak ada surat kontrak kerja antara dirinya dan perusahaan. Mereka hanya kesepakatan lisan. Nikodemus bekerja sebagai karyawan, menjual Bahan Bakar Minyak atau BBM jenis Solar dan Bensin.

Sekitar tahun 1985 Perusahaan Firma Ombay mendirikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBBU) di Kelurahan Kalabahi Tengah Kecamatan Teluk Mutiara. Nikodemus bekerja di SPBBU Air Kenari. Rekan kerjanya; alm. Umbu Kalikit, Anis (pemuda asal Kabupaten TTS), Yunus Bery dan alm. Daniel Laa.

Pengawas atau pemimpin mereka di SPBBU bernama Dipo Yono (suku Jawa). Dipo adalah orang kepercayaan Enthon Jodjana yang dipercaya menjadi pemimpin mereka di SPBBU Air Kenari. Kemudian dalam perjalanan sekitar tahun 2013/2014, Enthon Jodjana mengambil alih kepemimpinan Direktur di SPBBU Air Kenari sampai tahun 2019.

Nikodemus tetap bekerja sebagai karyawan di SPBBU. Awal tahun 2019, kepemimpinan SPBBU diserahkan oleh Enthon Jodjana kepada anak mantunya bernama IR. Surya Wonotirto, selaku Direktur PT.Ombay Sukses Persada Kalabahi.

Ada pepatah kuno, kesuksesan seorang pria tentu tak lepas dari dedikasi dan pengorbanan seorang istri. Hari ini Enthon Jodjana dikenal pengusaha kaya raya di Alor. Namun dibalik kesuksesannya, ada juga sosok nama pria asal pegunungan Alor Selatan. Dia adalah Nikodemus Oko.

“Enthon (Jodjana) orangnya baik. Sudah saya anggap bagian dari keluarga saya. Enthon tidak pernah marah saya. Sudah lama saya minta berhenti kerja, tapi bos (Enthon Jodjana) tidak mau. Jadi saya masih kerja,” ucap Niko.

Apakah bapak mengenal Direktur IR. Surya Wonotirto? Nikodemus Oko tidak menjawab seraya menampilkan wajah muram.

Nikodemus diberhentikan Direktur Perusahaan PT. OSP IR. Surya Wonotirto tanpa membayar pesangon dan hak-haknya sesuai Pasal 156 ayat (1) UU Ketenagakerjaan yang berbunyi:

“Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha diwajibkan membayar uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima.”

Reporter: Demas Mautuka