Kecerdasan Ekologis (Ecology Intelligence) Leluhur Baranusa

0
382

Oleh : Paulus Edison Plaimo

Kecerdasan Ekologis (Ecology Intelligence)

Goleman (2010) mengemukakan, bahwa Ecology Intelligence (kecerdasan ekologis) sebagai kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan di mana tempat manusia berada. Ecology Intelligence merupakan sebuah kemampuan manusia dalam merespon keadaan yang terjadi di sekitar lingkungannya. Adapun Gardner (2013) menyebut Ecology Intelligence dengan istilah kecerdasan naturalis. Menurutnya, kecerdasan naturalis merupakan kemampuan manusia dalam memahami gejala-gejala alam, memperlihatkan kesadaran ekologis dan menunjukkan kepekaan manusia terhadap alam.

Konseptualisasi Ecology Intelligence menurut (Goleman dalam TJ. Doherty, 2009) yaitu, menggabungkan kecerdasan (kemampuan untuk belajar dari pengalaman dan menangani secara efektif lingkungan kita) dengan ekologi (pemahaman tentang organisme dan ekosistemnya). Dalam komunitas ini termasuk manusia berinteraksi dengan unsur-unsur lingkungan fisik membentuk suatu sistem ekologis yang disebut dengan ekosistem. Ekologi diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan sesamanya beserta lingkungannya.

Satuan pokok ekologi, itulah yang disebut dengan ekosistem, yaitu sebuah sistem kehidupan yang terdiri atas komunitas mahkluk hidup (terdiri dari dari berbagai spesies) dan berbagai unsur yang berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Karena itu, jika terjadi gangguan fungsi atau kerusakan satu atau beberapa unsur dalam sistem akan memberi dampak terhadap fungsi subsistem lain (Cunningham, 2003). Dari pengertian ini, maka kajian ekologi berpusat pada manusia dan alam sebagai suatu sistem (ekosistem) yang membentuk suatu jaringan kehidupan. Posisi manusia dalam hal ini tidak mengabaikan peran mahkluk hidup lainnya, juga tidak memandang manusia berada di luar sistem, tetapi ini berarti bahwa manusia beserta perilakunya adalah bagian dari suatu ekosistem. Untuk tetap mempertahankan sistem ekologis diperlukan adalah adanya keserasian hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya.

Nilai Luhur Leluhur Baranusa

Kerajaan Baranusa seperti yang dituliskan dalam buku Kapita Selekta Sejarah Kerajaan Baranusa (M. Magang dan S.B Lelang, 2008), lahir pada abad ke-15. Pada abad ini kehidupan manusia pada umumnya masih dituntun berdasarkan naluri yang ditempa melalui lingkungan sekitarnya. Kompleksitas persoalan yang dihadapi kerajaan Baranusa pada abad ke-15, sangat tinggi seperti yang digambarkan M. Magang dan S.B. Lelang (2008), menguras energi dan perhatian dari urusan politik dalam kerajaan maupun antar kerajaan dalam bertetangga. Kendatipun demikian sebuah lonjakan pemikiran cerdas tentang bagaimana memperlakukan dan menghargai sesama makhluk hidup merupakan bagian dari komitmen komunitas hidup leluhur kerajaan Baranusa.

Sejak keberadaan kerajaan Baranusa di abad ke-15 dalam jejak kerajaan, seperti yang digambarkan dalam buku Kapita Selekta Sejarah Kerajaan Baranusa karangan (M. Magang dan S.B. Lelang 2008), kerajaan Baranusa pernah melakukan perpindahan domisili dengan lokasi yang berbed. Walaupun demikian daerah target perpindahan kerajaan, memiliki kesamaan yaitu, kawasan pesisir. Hal ini merupakan gambaran secara eksplisit tentang mata pencaharian masyarakat kerajaan Baranusa zaman dulu yakni nelayan atau menjadikan laut sebagai sumber kehidupan.

Letak kerajaan Baranusa yang berlokasi di pesisir maka pilihan profesi msyarakatnya untuk mengisi kehidupan didominasi oleh nelayan, tetapi juga tidak tertutup adanya profesi sambilan seperti petani dan beternak. Profesi nelayan yang ditekuni masyarakat Baranusa zaman dulu merupakan profesi yang mensejahterakan, melalui buku kapita selekta sejarah Kerajaan Baranusa karangan M. Magang dan S. B. Lelang (2008), menceritakan hasil tangkapan juga seringkali dibarter dengan hasil pertanian seperti ubi, jagung, pisang, kelapa dari kerajaan tetangga yang berhubungan baik.

Keterangan di atas menggambarkan bahwa hasil melaut dari masyarakat nelayan Baranusa zaman dulu berlimpah karena sebagian pula yang ditukarkan dengan hasil pertanian. Keadaan ini, sangat memungkinkan karena secara alamiah pada saat itu keberadaan sumber daya perairan yang melimpah, terutama sumber daya ikan atau hasil perikanan lainnya. Sebab pengelolaan sumber daya perairan (penangkapan ikan ataupun pengambilan bahan pangan perairan) masih bersifat tradisional dan kondisi perairan yang masih asri maka segala sumber daya perairan tumbuh dengan subur. Aspek ini mempengaruhi konstruksi pola pikir tentang bagaimana penggunaan sumber daya, di mana sedapat-dapatnya hanya menikmati karena semuanya telah tersedia, dengan mudah.

Prof. Tjut Sugandawati (2015), ketika dalam suatu kesempatan perkuliahaan Biologi Konservasi di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada menjelaskan, bahwa dalam keadaan senang oleh sebab tingkat perekonomian yang tinggi seseorang atau kelompok masyarakat dalam semua level atau tingkatan strata hidup akan sulit memikirkan kedaan sekitarnya bahkan lebih fokus bagaimana menikmati kebahagian tersebut sehingga biasanya kepekaan terhadap sesama maupun lingkungan sangat rendah. Oleh karenanya dalam setiap tatap muka rasa pesimismenya terhadap kepedulian elit ekonomi untuk lingkungan selalu disampaikan. Walaupun demikian pada tataran berpikir ini, leluhur masyarakat Baranusa zaman dulu jika disandingkan dengan teori ini jelas tidak relevan bahkan terbalik, karena kendatipun sedang diperhadapkan dengan kesenangan. Sebab kebutuhan hidup tercukupi masih juga sediakan waktu untuk memikirkan sebuah lumbung pangan yang berfungsi menjadi tabungan sumber daya perairan.

Sejalan dengan itu, seperti yang dituturkan oleh Bapak Samsudin Laara seoarang tokoh adat rumpun Baranusa (saat ini menjabat sebagai sekretaris lembaga adat rumpun Baranausa) bahwa sejak abad ke-15 masyarakat rumpun adat Baranusa sudah menganut agama Islam yang taat dan memilki konsep trilogi religius yang holistik seperti: 1). Mengimani nilai agama harus benar-benar hanya kepada Allah; 2). Berpengatahuan dengan tinggi sehingga ilmu (melalui sekolah) benar-benar menjadi patokan dan; 3). Melakukan aktivitas siasat (politik) yang lurus untuk kemaslahatan masyarakat. Pandangan hidup ini mengakar disetiap sendi kehidupan masyarakat adat Baranusa dan berperan melahirkan ajaran tentang cinta kepada Allah (Taku Nong Lahatala), cinta kepada sesama (Taku Nong Mangsia), dan cinta kepada alam (Taku Nong Ekang). Dalam kaitan dengan alam disampaikan pula oleh penutur Bapak Samsudin Laara, melalui kepercayaan itu posisi manusia di alam sebagai khalifa atau utusan untuk mengolah alam ini sebagai sumber kehidupan. Misalnya padi satu bulir kita tanam menghasilkan ribuan bulir, sebiji mangga dapat tumbuh menjadi satu pohon mangga yang akan berbuah dan menghasilkan ribuan buah mangga. Demikian juga hasil di laut, ikan yang Tuhan ciptakan setiap hari penuh di pantai, tetapi laut tidak kosong. Maka oleh sebab itu laut perlu dijaga karena itu sumber kehidupan. Dengan dasar itu masyarakat Baranusa sejak dahulu sudah menjaga alam melalui prosesi adatia karena alam rusak dapat mengakibatkan kematian pada manusia itu sendiri.

Progres tindakan ini sangat cemerlang dalam (nilai kognitif) oleh sebab, mengatur sampai pada tingkatan kapan waktu penutupan areal kawasan tertentu dari aktivitas penangkapan atau pengambilan sumber daya perairan, yang berlanjut juga pada tahap di mana, yang ditentukan pula saatnya dibuka kembali areal kawasan tertentu, untuk aktivitas penangkapan atau pengambilan sumber daya perairan melalui ritual adatia.

Melengkapi tindakan adatia di atas, untuk lebih mengikat dan menjaga kepatuhan disiapkan pula metode mengenai sanksi terhadap pelanggar, dengan sanksi adat berupa sakit penyakit seperti gatal-gatal, kelumpuhan, kebutaan, dan dapat berlanjut pada kematian jika pelanggar tidak kembali menemui Bapak Sengaji Gini dari suku Sandiata (suku ini menjadi penghubung dengan arwah leluhur) yang telah dipercaya secara turun temurun untuk berdialog dengan leluhur, agar dinasehati untuk tidak kembali mengulangi perbuatannya yaitu melakukan aktivitas pengambilan atau pencarian di kawasan Mulung maka dengan sendirinya pelanggar akan sehat kembali seperti sediakala.

Kelebihan leluhur masyarakat Baranusa zaman dulu, di sela-sela menikmati kehidupan dengan ketersediaan sumber daya perairan yang melimpah bukannya terlena namun sebaliknya dengan landasan sebagai khalifa, memikirkan keadaan anak cucu dikemudian hari, yang saat itu kemungkinan telah mereka prediksi jika suatu masa nanti mengalami devisit sumber daya, terutama sumber daya perairan. Karena populasi penduduk yang meningkat berpeluang membuka ruang kompetisi semakin lebar apalagi didukung ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikemudian hari akan maju pesat dan mendorong penggunaan alat penangkapan yang canggih bahkan bersifat destruktif sebagi jalan pintas pengambilan sumber daya dalam jumlah besar namun merusak habitat.

Konstruksi berpikir, leluhur kerajaan Baranusa, dituangkan melalui ritual adat yang disebut Mulung. Mulung adalah istilah adatia untuk sebuah konservasi habitat, proses adatia ini dilakukan melalui tahapan Hading dan Hoba. Hading Mulung secara harafiah menancapkan sebuah tiang dikawasan tertentu sebagai tanda untuk pelarangan penangkapan atau pengambilan sumber daya perairan seperti ikan, lola, kima, dan lain-lain. Kemudian Hoba Mulung adalah pencabutan tiang pancangan sebagai tanda larangan dicabut dan semua sumber daya dapat di ekploitasi untuk dikonsumsi maupun dikomersilkan.

Melalui tradisi panjang yang bersifat adatia ini juga dalam masa pemerintahan desa gaya baru Desa Baranusa di era kepemimpinan Bapak Ulumando dikenal dengan istilah tutup pulau dengan tutup kacamata atau tera Lapang-Batang (penghentian penyelaman ikan, lola, kima, teripang bahkan sumber daya perairan dengan menggunakan kacamata selam untuk sementara waktu). Tahun 1975-1982.

Kronologis peristiwa Mulung walaupun dalam pelaksanaannya berbeda istilah tetapi ada kesamaan dalam Konteks dan substansi dari proses Hading Mulung itu sendiri. Esensinya adalah proses ritual adatia untuk melakukan penutupan atau pelarangan kawasan air laut tertentu untuk beberapa saat dari segala aktivitas penangkapan atau pengambilan sumber daya. Interval waktu antara Hading Mulung dan Hoba Mulung berubah dari waktu-ke waktu. Zaman dulu pernah tiga (3) bulan, enam (6) bulan akhirnya saat ini setahun. Alasannya, adalah zaman dulu populasi penduduknya sedikit sehingga, kebutuhan sumber daya dan kerusakan habitat juga rendah keadaan ini berdampak pada waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan relatif lebih pendek dibanding saat ini. Keadaan ini dipertegas dengan pernyataan Bapak Samsudin Laara dalam beberapa kesempatan, bahwasanya zaman dulu Hading Mulung diterapkan cukup tiga (3) bulan saja ikan, lola, kima, semua sudah melimpah. Sedangkan Hoba Mulung adalah juga proses adatia untuk membuka kembali akses untuk pengelolaan atau pengambilan sumber daya oleh masyarakat untuk difungsikan sebagai bahan pangan maupun dikomersilkan.

Seturut dengan itu kembali penyampaian, menurut Bapak Samsudin Laara (sekertaris Lembaga Adat Rumpun Baranusa) yang di pertegas oleh Bapak H. B. K. Hobol (Ketua Dewan Adat Rumpun Baranusa) dan Bapak H. Amir P. Uba (Ketua Suku Sandiata) bahwasannya kebiasaan Mulung yang dilakukan sejak turun-temurun adalah dalam rangka mempersiapkan bahan pangan, terutama bahan pangan perairan untuk menyongsong kegiatan pembukaan lahan pertanian (berkebun) dan saat panen hasil pertanian (berkebun). Sebab kegiatan pertanian (berkebun) dilakukan juga secara begotong royong.

Pernyataan ini dipertegas oleh pewaris kerajaan Baranusa Bapak Mangkup Radja Baso bahwa, Proses pelaksanaan Hading dan Hoba Mulung, sejak pemerintahan masih bersifat kerajaan sampai saat ini, secara turun temurun telah dipercayakan kepada lembaga adat rumpun Baranusa. Lembaga Adat Rumpun Baranusa di masa pemerintahan masih bersifat kerajaan secara organisatoris berada dalam pengawasan Raja. Setelah prosedur pemerintahan berganti sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, peran Lembaga Adat Rumpun Baranusa, bersifat independen namun dalam pelaksanaan programnya, merupakan bagian dari pengawasan juga koordinatif dengan pemerintah desa, Pemerintah Kecamatan maupun Pemerintah Kabupaten sesuai dengan amanat Peraturan Bupati Nomor: 4 Tahun 2018, Tentang Pemberdayaan Masyarakat dan Lembaga Adat.

Landasan pemikiran leluhur masyarakat Baranusa pada zaman dulu, ketika melahirkan konsep adatia Mulung jika ditelaah menurut pernyataan KT. Stevenson, (2014) bahwasanya kecerdasan ekologi, hanya dapat dilakukan oleh masyarakat yang terpelajar dan sadar akan lingkungan. Konsep pemikiran nan cerdas ini, adalah peninggalan karya excelent yang terus harus dilestarikan sebagai bagian dari cara generasi saat ini, menghormati Leluhur itu sendiri.

Pengembangan warisan pemikiran leluhur adatia rumpun Baranusa meninggalkan kerangka berpikir untuk langkah-langkah keberlanjutan pelaksanaan Mulung saat ini oleh generasi sekarang. Langkah pengembangan keberlanjutan dapat ditopang oleh beberapa point penting, sebagai warisan pemikirian leluhur Baranusa yang dapat dimaknai juga sebagai point pembelajaran yaitu :

1. Kemajuan berpikir yang sangat mumpuni, dimana abad ke-15 sudah memikirkan tentang kelembagaan yang luarannya (out put) dengan membentuk lembaga adat, aktivitas ini yang saat ini dikenal sebagai pemberdayaan masyarakat;

2. Leluhur Baranusa di abad ke-15, sudah membangun konsep harmonisasi dengan alam. Melihat alam sebagai mitra (saling berbagi atau saling melayani dalam mengisi kehidupan) sedangkan ditempat atau daerah lain masih melihat alam sebagai lawan untuk ditaklukan;

3. Nilai ketaatan pada ikrar adatia yang mengandung makna hukum yang pantas diteladani.

*Penulis adalah Staf Pengajar
Universitas Tribuana Kalabahi