Imanuel Blegur: Perlu Perbaiki Krisis Jati Diri, 4 Pilar Kebngsaan Solusinya

0
295

Fatukanutu,- Lunturnya nilai-nilai jati diri bangsa terlihat nyata pada perilaku pelanggaran norma moral dan hukum. Tumbuhnya ideologi asing, meluasnya praktik ketidakadilan dan kesenjangan sosial, maraknya perilaku koruptif, aksi kekerasan dan intoleran, meningkatnya eskalasi gerakan separatisme, serta mewabahnya perilaku main hakim sendiri. Pergerakan perubahan dari sistim-sistim diatas merupakan gejala dari menurunnya nilai jati diri bangsa Indonesia.

Hal ini disampaikan Anggota MPR-DPR RI, DR. Imanuel Ekadianus Blegur, M.,Si, saat melakukan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, dihadapan sejumlah peserta kegiatan, yang turut dihadiri oleh Komunitas Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kupang, di Desa Fatukanutu Kabupaten Kupang-Nusa Tenggara Timur, Sabtu 02 Februari 2019.

Menurutnya, penggunaan istilah Empat Pilar didasarkan pada pertimbangan obyektif bahwa ada empat hal yang dianggap paling relevan dengan kebutuhan saat ini untuk diangkat kembali guna mengatasi berbagai tantangan krisis jati diri bangsa. Secara tegas empat pilar kebangsaan yang dimaksud antaralain; Pilar Pancasila, Pilar Undang-Undang Dasar 1945, Pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pilar Bhinneka Tunggal Ika.

Dia menguraikan, Pertama, Pilar Pancasila; merupakan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki fungsi sangat fundamental. Selain bersifat yuridis formal,  mengharuskan seluruh peraturan perundang-undangan berlandaskan Pancasila (sering disebut sebagai sumber dari segala sumber hukum). Selain itu Pancasila juga disebut sebagai dasar negara dan sebagai pandangan hidup, Pancasila mengandung nilai-nilai luhur yang harus dihayati dan dipedomani oleh seluruh warga negara Indonesia dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kedua, Pilar Undang-Undang Dasar 1945; Pilar  kedua  kehidupan  berbangsa  dan  bernegara  adalah  Undang-Undang Dasar  1945.  Peranan  UUD  1945 mengandung beberapa prinsip, diantaranya; Sumber Kekuasaan, Hak Asasi Manusia dan Sistem Demokrasi. Ketiga, Pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); Secara filosofis-ideologis dan konstitusional, bahkan kultural negara kebangsaan (nation state) adalah peningkatan secara  kenegaraan  dari nilai dan asas kekeluargaan. Makna kekeluargaan, bertumpu pada karakteristika dan integritas keluarga yang manunggal; sehingga rukun, utuh-bersatu, dengan semangat kerjasama dan kepemimpinan gotong-royong.

Keempat,  Pilar Bhinneka Tunggal Ika; Bhinneka Tunggal Ika berisi konsep pluralistik dan multikulturalistik dalam kehidupan yang terikat dalam suatu kesatuan. Prinsip pluralistik dan multikulturalistik adalah asas yang mengakui adanya kemajemukan bangsa. Kemajemukan dihormati  dan  dihargai  serta didudukkan  dalam  prinsip  yang  mampu  mengikat  keanekaragaman  dalam  kesatuan.

Kemajemukan dalam konteks ini, bukan dikembangkan dan didorong menjadi faktor pemecah bangsa, tetapi merupakan kekuatan  yang  dimiliki  oleh masing-masing komponen bangsa,  diikat  secara  sinerjik  menjadi  kekuatan  yang  mampu dimanfaatkan untuk menghadapi tantangan dan persoalan bangsa.

Prinsip atau asas pluralistik dan multikultural Bhinneka Tunggal Ika mendukung nilai: (1) inklusif, tidak bersifat eksklusif, (2) terbuka, (3) ko-eksistensi damai dan kebersamaan, (4) kesetaraan, (5) tidak merasa paling benar, (6) toleransi, (7) musyawarah disertai dengan penghargaan terhadap perbedaan. Suatu masyarakat eksklusif tidak memungkinkan terjadinya perkembangan arus globalisasi yang demikian deras dan kuat, serta dalam menghadapi keanekaragaman budaya bangsa.

Imanuel Ekadianus Blegur berharap, Dengan terlaksananya kegiatan sosialisasi oleh Anggota MPR RI di daerah pemilihan, dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yaitu Pancasila, Undang – Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, negara kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. (*)