Alor Darurat Demam Berdarah

0
333

Pasien menumpuk di Sal Anak RSUD Kalabahi, Kamis (7/3). 

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Kabupaten Alor, Provinsi NTT, sedang darurat kejadian luar biasa demam berdarah (KLB DBD). Sudah dua hari sejak Rabu (6/3) hingga Kamis (7/3), pasien anak menumpuk di RSUD.

Informasi yang dihimpun media ini, sudah dua anak meninggal dunia. Mereka positif terserang virus DBD.

Pantauan wartawan di RSUD Kalabahi, Kamis (7/3), sekitar pukul 11.00, sejumlah anak-anak diantarkan orang tua mereka masuk di Unit Gawat Darurat.

“Ia anak saya sakit demam. Sakitnya kemarin. Panas tinggi tidak redah jadi kami antar rawat di sini (RSUD),” ujar orang tua pasien berinisial NT saat menjaga anaknya di UGD RSUD Kalabahi.

Kepala RSUD Kalabahi dr. Ketut terlihat sedang memantau pasien di UGD RSUD Kalabahi. Dokter dan Perawat juga sibuk merawat pasien anak-anak yang masuk.

Ditemui wartawan di UGD, dr. Ketut, tidak ingin berkomentar soal status KLB DBD yang dirawat di RSUD Kalabahi. Dirinya meminta dokter Lia Haan untuk memberikan keterangan pers.

Dokter Lia menjelaskan, data pasien anak-anak dan orang dewasa yang masuk di UGD RSUD Kalabahi cukup meningkat pesat di interval waktu tiga hari belakangan ini.

Meski begitu, dokter Lia belum bisa memastikan status pasien DBD yang menyerang pasien mayoritas anak-anak. Karena masih dilakukan pemeriksaan laboratorium.

“Peningkatan baru dua, tiga hari memang banyak sekali kasus (demam) yang masuk (di UGD). Cuman kita selektif juga. Kita periksa dulu. Biasanya banyak penyebab, malaria juga ada,” ujar dr. Lia Haan, sambil tidak menyebut pasti jumlah pasien yang positif terserang DBD.

Lia Haan menjelaskan, gejala awal DBD yaitu, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, nyeri otot, nyeri pada persendian tubuh, mual, muntah, diare dan demam.

“Ciri-cirinya pasien DBD yaitu, anak panas lebih dari dua hari. Kemudian ada timbul manifestasi perdarahan pada gusi. Anak lemas, nyeri, mual, muntah. Lalu ada bintik-bintik merah pada muka dan kulit. Penyebabnya virus yang dibawa oleh nyamuk,” katanya.

Dokter Lia mengatakan, ciri DBB yang paling mudah diketahui dalam pemeriksaan medis adalah pemeriksaan trombosit dan manifestasi perdarahan. Bila trombosit menurun dan terdapat bintik-bintik pada kulit dan muka maka pasien tersebut berpotensi positif terserang virus DBD.

“Demam berdarah, salah satu ciri yang kita bisa cek itu, trombosit. Kadar trombosit biasanya turun di bawah 100. Kedua, ada manifestasi perdarahan. Paling gampang bisa di cek itu ada bintik-bintik di muka dan kulit. Bisa dia keluar secara alami atau kita pancing dengan cara pemeriksaan (medis). Nanti dia keluar, kemudian kita hitung jumlahnya. Kalau positif, derajatnya berapa (bintik). Ada standarnya. Kemudian ditunjang dengan pemeriksaan darah,” kata dr. Lia.

“Semua itu kita baru duga demam berdarah. Karena penyebab lain juga bisa menyebabkan demam. Malaria, batuk pilek juga bisa demam. Perubahan iklim pun bisa, demam. Jadi ada banyak penyebab demam,” lanjut dia.

Meskipun demikian, dokter Lia menyebut, dalam tiga hari terakhir ini peningkatan pasien anak kasus dengan kadar trombosit turun dan manifestasi perdarahan cukup meningkat drastis di RSUD. Itu artinya, ada potensi KLB DBD di Kabupaten Alor.

“Peningkatan kasus dengan kadar trombosit turun dan manifestasi perdarahan cukup meningkat dalam pemeriksaan,” tuturnya.

Masyarakat Dihimbau Jaga Kebersihan Lingkungan dan Pakai Kelambu

dr. Lia menambahkan, virus DBD dapat menyerang semua orang tanpa status usia. Namun, potensinya mayoritas terserang pada anak-anak usia dini. Karena ketahanan tubuh masih belum stabil.

Oleh sebab itu dr. Lia menghimbau kepada masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan, kebersihan rumah dan memakai kelambu.

“Masalah penanggulangan DBD harus menjadi perhatian semua elemen masyarakat. Di rumah harus bersih, lingkungan harus bersih dan ingat pakai kelambu. Karena virus (DBD) ini dibawa oleh nyamuk,” pungkasnya.

Terkait kesiapan RSUD dalam penanganan pasien KLB DBD, dr. Lia menyebut, tidak ada masalah. “Obat ada. Tenaga ada. Tidak ada kendala di sini (RSUD). Kita tetap menerima dan merawat pasien yang masuk,” tutup perempuan muda berparas cantik yang sudah lama bertugas di RSUD itu.

Pantauan wartawan di ruang UGD dan Sal Anak RSUD Kalabahi, nampak pasien yang dirawat menumpuk. Ruangan penuh. Manajemen rumah sakit kini kesulitan menampung pasien yang masuk.

Reporter: Demas Mautuka