Pengacara: Putusan Praperadilan Perkuat Status Tersangka Enny Anggrek

0
1207

Pengacara Efraim L. Kolly, Lukas Atalo, SH (kiri) dan tersangka Enny Anggrek. 

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Pengacara pelapor Efraim L. Kolly, Lukas Atalo, SH, meminta Polisi obyektif dalam penanganan perkara dugaan fitnah, tersangka Enny Anggrek.

Sebab, status tersangka Enny, disebutnya sudah diperkuat dengan putusan Hakim Praperadilan Pengadilan Negeri Kalabahi. Tidak ada alasan lain Polisi dapat menghentikan perkara Enny Anggrek bila ingin mengeluarkan SP3.

Ia menyebut, meskipun ada perubahan BAP dari salah satu saksi wartawan ternama media cetak di NTT, Polisi tidak bisa jadikan rujukan hentikan perkara Enny Anggrek.

“Keterangan saksi dan barang bukti awal, itu yang kemudian dipakai Polisi untuk menetapkan Enny tersangka. Nah, kalaupun keterangan saksi sudah berubah, itu disampaikan di hadapan Hakim saat persidangan, nanti. Jadi Polisi harus obyektif tangani perkara ini,” ujar Lukas, Minggu (10/2/2019) di Kalabahi.

Dia menjelaskan, pemeriksaan BAP awal oleh saksi itu secara hukum sah menjadi dasar penetapan tersangka Enny Anggrek. Meskipun belakangan ada perubahan BAP, Lukas mengaku, itu tidak bisa dijadikan dasar penghentian perkara Enny.

“Karena, waktu saksi tandatangani keterangannya di BAP awal, itu sah dalam keterangannya. Artinya keterangannya itu sudah sah menurut hukum. Kan itu yang dijadikan rujukan Polisi tetapkan Enny Anggrek tersangka. Kalau Polisi bilang ada perubahan BAP berarti patut diduga Polisinya tidak profesional,” katanya.

Pengacara Lukas menambahkan, dalam prosedur pengambilan keterangan saksi, penyidik akan mengikuti standar prosedur pemeriksaan. Artinya, setiap keterangan yang diambil, penyidik akan memberikan BAP kepada saksi untuk dibacakan kembali. Setelah itu baru saksi dipersilahkan menandatangani BAP.

“Tata caranya BAP kan begini; setelah diambil keterangan, akan dikembalikan kepada saksi atau korban untuk membaca kembali BAPnya. Setelah itu dia akan menyatakan apakah BAP itu sudah benar atau tidak? Pada waktu dia nyatakan bahwa BAP sudah lengkap, dia tandatangani.”

“Selesai tandatangan BAP ya status BAP itu sah. Itu yang dijadikan dasar penetapan tersangka Enny. Kalau BAP dari saksi wartawan itu tidak sah waktu itu maka Enny Anggrek tidak akan menjadi tersangka,” jelasnya.

Lukas kesal ada perubahan BAP dari saksi salah satu wartawan media cetak terbesar di NTT. Sebab, kata dia, Polisi tidak seharusnya mengijinkan adanya perubahan BAP. Perubahan BAP hanya boleh dilakukan di hadapan Hakim.

“Kalau Polisi profesional maka dia akan ajukan kepada saksi wartawan bahwa boleh mengubah keterangan di BAP tapi nanti di Pengadilan. Sederhananya, mengapa ada tersangka? Ya karena sahnya BAP awal dari wartawan ternama itu,” pungkasnya.

Walau demikian, Lukas menegaskan bahwa tidak ada alasan lain kasus Enny Anggrek dihentikan Polisi. “Ya, Polisi harus profesional. Dan saksi wartawan harus rubah keterangannya di hadapan Hakim. Saya pikir kasus ini sudah harus disidangkan karena sudah terlalu lama,” tuturnya.

Tentang putusan Praperadilan, Lukas bilang, Praperadilan yang dimenangkan Polisi memperkuat posisi status tersangka Enny Anggrek.

“Kalau Hakim sudah menolak permohonan Praperadilan pemohon (Enny Anggrek), itu berarti secara formal perbuatan Enny sudah memenuhi unsur statusnya sebagai tersangka sesuai KUHAP,” tutup Lukas.

Sebelumnya Lomboan Djahamou mengaku kasus Enny Anggrek sudah dihentikan Polisi karena ada perubahan BAP dari salah satu saksi wartawan media cetak ternama di NTT. Informasi tersebut katanya diperolehnya dari Kasat Serse AKP Lorensius, SH, S.IK. Informasi adanya Surat Penghentian Penyidikan Perkara atau SP3 tersebut pun dibenarkan tersangka Enny Anggrek.

Namun Kapolres Alor AKBP Patar Silalahi, S.IK, menegaskan, pihaknya akan tetap memproses berkas tersangka Enny Anggrek untuk diserahkan ke Jaksa. Selanjutnya disidangkan di PN Kalabahi.

“(Berkas tersangka Enny Anggrek) masih diproses. Akan dilengkapi dan dikirim ke Jaksa,” ujar Kapolres AKBP Patar saat dihubungi wartawan, Kamis (7/2/2019) di Kalabahi.

Penulis: Demas Mautuka