Ahli: Perlu Identifikasi Sebaran Hama Kutu Putih Penyerang Singkong di Alor

0
630

Dosen Faperta Untrib, Jeanny Didiana Molebila, S.P.,M.Si.

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Ahli Hama Penyakit Fakultas Pertanian Universitas Tribuana (Untrib) Kalabahi Jeanny Didiana Molebila, S.P.,M.Si menyebut, perlu ada upaya identifikasi sebaran hama kutu putih di Alor. Hal itu dilakukan untuk mengetahui sumber kedatangan dan jenis hama dalam upaya penanggulangan.

Ribuan hama itu sejak 2016 lalu menyerang tanaman ubi kayu atau singkong (Manihot utilissima) di Alor Timur dan Pureman. Seluruh perkebunan ubi warga, lenyap.

“Nah, perlu identifikasi hama itu. Dari mana datangnya. Kemungkinan bisa terbawa benih yang didatangkan dari luar. Bisa saja terbawa angin. Bisa juga lewat mobilisasi barang dan orang. Karena dia memiliki cairan yang mudah lengket. Ada banyak cara dia berpindah. Karena itu perlu identifikasi,” kata Jeanny, Jumat, (1/2/2019) di kampus Untrib, Kalabahi.

Ia menjelaskan, identifikasi perlu dilakukan supaya mengetahui pula karakteristik atau jenis hama kutu putih penyerang tanaman warga.

“Kita perlu identifikasi secara lanjut. Karakteristiknya itu hama apa. Kutu putih kan ada jenisnya juga. Kita tahu silsilahnya, taksoniminya dia datang dari mana. Kalau dia bukan hama asli, dia datang dari mana. Apa dari Australia, Kupang, Timor atau dari luar. Ya, kita harus tahu itu,” katanya.

Tingkat penyebaran dan populasinya lanjut Jeanny, biasanya disesuaikan dari kelembaban udara. Bisa dikatakan setiap musim-musim tertentu bila kelembaban udara meningkat, populasinya akan terus bertambah-tambah.

“Nah, itu biasanya berdasarkan karakteristik hama. Ada yang kelembaban tinggi, otomatis populasinya meningkat. Begitu, sebaliknya. Tergantung musim. Kutu putih, biasanya tergantung needs-nya, dia ada di batang (singkong) dan daun atau pucuk,” kata Dosen Faperta Untrib itu.

Jeanny menambahkan, perkembangan kutu putih pada tanaman singkong akan berlangsung cukup cepat. Karena kutu putih masuk kategori mikroorganisme yang paling cocok hidup pada pucuk daun singkong.

“Dia paling cocok hidup di pucuk. Kalau dia sudah ada di pucuk, otomatis perkembangannya lebih cepat. Karena dia kategori mikroorganisme yang cukup cepat berkembang,” Jeanny berpendapat.

Tentang bahaya serangan, Jeanny bilang, kutu putih akan memulai serangannya pada pucuk singkong. Dia akan mengisap cairan tanaman melalui pucuk hingga tanamannya perlahan mati.

“Dia (serang) di pucuk. Dia hidup di bagian bawa daun pucuk. Dia tipe serangga pengisap cairan. Jadi dia isap cairan tanaman mulai dari pucuk. Daun akan tidak berkembang penuh. Ia tidak dapat proses fotosintesis,” jelasnya.

Penyerapan unsur hara dari proses fotosintesis di daun tidak jalan. Itu mempengaruhi fisiologi tanaman sehingga tanaman itu tidak bisa menghasilkan. “Bahkan bisa mati (dalam sekejap),” kata Alumnus Pasca Sarjana Hama Penyakit Tanaman Faperta Unhas itu.

Dia menyarankan, pembasmian hama menggunakan Insektisida untuk membunuh larva kutu putih perlu dilakukan setelah jenis kutu teridentifikasi. Bisa juga melalui cairan tembakau sebagai solusi pengobatan lokal.

“Bila perlu potong siklus tanam. Satu tahun (masyarakat) jangan dulu tanam. Ganti tanaman lain. Lalu tahun berikut baru tanam. Kita lihat dia (kutu putih) hidup atau tidak di situ. Mungkin ada lagi tapi populasinya kecil. Kalau semprot (dengan insektisida) bisa. Cairan tembakau juga bisa (disemprot), karena kandungan nikotinnya itu mematikan,” ungkapnya.

Jeanny katakan, langkah-langkah preventif dan pembasmian perlu dilakukan pemerintah dan semua pihak. Karena ubi kayu merupakan tanaman pokok warga di Alor Timur dan Pureman.

“Nanti kita coba teliti lebih jauh jenis kutu putih di Alor Timur dan Pureman. Perlu ada langkah sehingga masyarakat kita tidak gagal panen dan kelaparan,” tutur Jeanny.

Diberitakan sebelumnya, ratusan Ha lahan ubi kayu milik warga di Kecamatan Alor Timur dan Pureman lenyap terserang hama kutu putih. Kini masyarakat kesulitan bibit singkong untuk ditanam kembali.

Kepala Dinas Pertanian Yustus Dopong Abora, mengatakan, pihaknya akan menerjunkan tim untuk identifikasi dan ambil langkah strategis, pembasmian.

Penulis: Demas Mautuka