Datangi Dinkes, Ima Blegur Minta Usul Semua Falkes

0
922

Anggota DPR RI Komisi IX Dr. Imanuel E. Blegur, foto bersama Sekdinkes Alor Mery Gorangmau usai dialog, Senin, (28/1) di kantor Dinkes.

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Anggota DPR RI Komisi IX Dr. Imanuel E. Blegur kunjungan kerja ke Dinas Kesehatan Kabupaten Alor, Provinsi NTT, Senin, (28/1), pagi.

Kunker itu, dia meminta agar pemerintah daerah mengusulkan sejumlah fasilitas kesehatan yang belum terakomodir dalam APBN murni 2019.

Mengenakan baju kemeja krem bergantung pin DPR RI dan celana coklat, Imanuel tiba di Dinas Kesehatan pukul 10.00 wita. Di sana, ia disambut Sekretaris Dinkes Alor, Mery Gorangmau.

“Agenda kunjungan kerja spesifik perorangan saya ini hanya mengecek sejumlah fasilitas kesehatan di Alor. Saya kunjungi beberapa Puskesmas dan RSUD, ternyata masih ada fasilitas kesehatan yang belum ada. Ada juga yang tidak layak pakai. Jadi saya datang ke Dinkes minta supaya usulkan di perubahan anggaran 2019 dan APBN murni 2020,” kata Ima Blegur.

Sejumlah Falkes yang dinilai tidak memiliki kapasitas yang layak, antara lain: tabung penampung darah. Menurutnya, tabung darah itu punya kapasitas kecil sehingga daya tampung darah tidak banyak.

“Penampung transfusi darah yang ada di RSUD itu kecil. Jadi kalau pas ada program penampung darah, sulit tertampung dalam jumlah yang banyak. Kasihan keluarga kita dari kampung yang rawat di RSUD. Mereka kesulitan dapat darah. Tadi saya cek langsung di RSUD,” ujar Ima Blegur yang membidangi Kementrian Kesehatan dan Tenaga Kerja di Komisi IX DPR RI itu.

Selain itu tabung O2. Ima bilang biaya pengadaan O2 pun cukup besar. Capai Rp. 450 ribu/tabung bila dibeli di Alor maupun Kupang. Tergolong mahal. Tetapi kalau dibeli langsung di KSO perusahaan produksi tabung O2, harganya relatif murah. Hanya Rp.200 ribu/tabung.

“Nah inikan menolong. Sebab satu hari KSO bisa support 8 tabung. Harganya relatif murah, Rp.200 ribu/tabung. Pakainya lama,” jelasnya

Imanuel juga meminta pemerintah daerah mengusulkan tambahan gedung baru Puskesmas, agar 17 kecamatan bisa terisi.

“Nah, saya kunjungi Alor masih banyak daerah yang sulit mengakses pelayanan kesehatan. Kita berharap ada usulan baru Puskesmas untuk 17 kecamatan. Yang ada 11 gedung baru itu bagus. Bila perlu kita tambah lagi menjadi 17,” ungkapnya sambil meminta Pemkab mencari solusi kelanjutan pembangunan proyek Puskesmas Maritaing yang kini mangkrak.

Dirinya kemudian meminta Mery Gorangmau agar berkoordinasi dengan Kadinkes dr. Maya Blegur, mengusulkan semua kebutuhan Falkes yang belum diusulkan di murni 2019. Dia berjanji akan perjuangan itu bila usulannya sudah ada.

“Saya minta tolong mama Mery, usulkan kebutuhan apa saja yang belum diusulkan di APBN murni 2019 kemarin. Copiannya tolong satu kasih saya. Nanti saya bantu perjuangkan di perubahan APBN 2019 dan APBN murni 2020. Karena masa tugas saya akan berakhir setelah pembahasan APBN murni 2020. Saya ingin Falkes di Alor terisi semua sebelum masa akhir tugas saya,” tutur Imanuel Blegur.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Alor Mery Gorangmau, menyambut baik Kunker Imanuel Blegur di ruang kerjanya. Mery menyebut, akan berkoordinasi dengan Kadinkes dr. Maya Blegur untuk mengusulkan kebutuhan Falkes di Alor.

“Terima kasih atas kedatangan bapak Ima di sini. Memang saat ini untuk tahun 2018 kami lagi fokus bangun 11 Puskesmas dari APBN. Di Pantar ada 3 Puskesmas baru. Yang lain di sini sedang dikerjakan dan ada yang sudah difungsikan. Untuk usulan Falkes nanti saya koordinasi dengan ibu Kadis. Tetap kita usul nanti,” tutup Mery.

Usai Kunker, siang tadi, Imanuel dan istrinya Marselina Blegur, meninggalkan Alor menuju Kota Kupang melalui Bandara Udara Mali.

Penulis: Demas Mautuka