Politeknik Kupang Rekomendasi Proyek Puskesmas Maritaing Dibongkar

0
1102

Anggota DPR RI Komisi IX Dr. Imanuel E. Blegur sedang berdialog dengan pejabat Dinkes Alor, Daniel Lapikoli dan Yameha, di lokasi proyek Puskesmas Maritaing, Sabtu, (26/1). 

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Tim Teknik Politeknik Negeri Kupang merekomendasikan proyek gedung baru Puskesmas Maritaing dibongkar. Alasannya, dari hasil pemeriksaan Tim ditemukan fakta, gedung lantai dua dikerjakan tidak sesuai spesifikasi kontrak.

Proyek itu dikerjakan kontraktor PT. Menara Jaya Makmur, T.A 2017 dengan total dana sebesar Rp.6,1 Miliar.

“Kemarin Tim Poltek turun periksa dan rekomendasinya sudah keluar. Rekomendasinya itu kalau mau lanjut kerja ya harus kasih turun semua (dibongkar). Karena gedung ini satu kesatuan semua,” ujar Pejabat Dinkes Alor Daniel Lapikoli, saat berdialog dengan Anggota DPR RI Komisi IX Dr. Imanuel E. Blegur, sewaktu Kunker, Sabtu, (26/1) di Maritaing.

Daniel menjelaskan, alasan rekomendasi pembongkaran tersebut dikeluarkan karena dalam pemeriksaan, gedung dibangun tidak sesuai spesifikasi kontrak.

Dari investigasi tim Poltek, item yang ditemukan, cor besi gedung lantai dua dikerjakan tidak sesuai spesifikasi.

“Lantai dua itu cor besi hanya satu besi saja. Seharusnya kan dua besi. Ini kan model cor plat besi saja. Jadi kalau ketok di atas berarti akan mengganggu semua struktur bangunan. Jadi mau kerja lanjut ya dibongkar semua,” kata Daniel didampingi rekan kerjanya, Yameha.

Ia menambahkan, dalam pemeriksaan Tim Poltek Kupang menggali dan memukul cor besi lantai dua. Hasilnya, pada cor lantai ditemukan hanya terpasang satu besi saja. Dalam spek seharusnya terpasang dua besi.

“Jadi waktu Tim Poltek datang, mereka gali dan pukul di beberapa titik lantai dua. Tukang dong datang kasitahu mereka (Tim Poltek), bahwa ini kita yang kerja hanya pasang satu besi saja. Tapi karena mau pembuktian jadi mereka toki lantainya,” pungkas Daniel.

Imanuel Blegur terkejut mendengar, keterangan dari Daniel dan Yameha bahwa ujung besi yang terpasang keluar hanya mengelabui saja. Seolah-olah besi itu di dalamnya semua terpasang cor lantai. Faktanya, hasil pemeriksaan tim, cor besi yang menanjak keluar hanya terpasang dari ujung lantainya saja.

“Jadi di depan inikan setelah cor baru mereka hanya tusuk (besi) saja hanya untuk mengelabui. Di belakang (gedung lantai dua) juga begitu,” kata Yameha kepada Imanuel E. Blegur, diamini rekannya Daniel Lapikoli.

“Hai? Kurang ajar. Daerah gempa ini? Saya dengar Kontraktornya itu yang kerja proyek Pasar Lipa Kalabahi?” jawab Imanuel Blegur, terkejut.

Selain itu, Yameha menyebut, sebelum kontraktornya di PHK, tiang gedung lantai dua yang terpasang pun hanya beberapa saja. Setelah di PHK tiang yang lain terpasang di luar dari pengawasan konsultan pengawas.

“Lantai dua ini waktu di PHK itu, dia punya tiang hanya 2, kemudian 2 lagi di tengah ini dan di belakang ada 6 dan 7. Itu saja yang ada. (Tiang) yang lain kerja di luar pengawasan konsultan pengawas,” Yameha menjelaskan sambil menunjuk posisi tiang gedung lantai dua Puskesmas Maritaing.

Dari hasil penemuan kejanggalan-kejanggalan tersebut, Yameha mengaku pihaknya sudah PHK Kontraktor PT. Menara Jaya Makmur akhir Desember 2017. Sebab, perusahaan bekerja tidak sesuai spesifikasi dan melewati batas waktu dari 150 hari kalender kerja terhitung tanggal kontrak 29 Juli 2017.

“Sekarang sudah PHK. Siapa mau bertanggung jawab bangunan lantai dua ini?” tegasnya.

Yameha bilang, jasa kontraktor PT. Menara Jaya Makmur pun sudah dibayar pemerintah sesuai presentasi progres fisik proyek. Semua jaminan perusahaan juga sudah di sita pemerintah.

“Bayar 12,15% (dari total nilai proyek Rp.6,1 Miliar). Jaminan uang muka dan jaminan pelaksanaan sudah diamankan. Itu pun kemarin kami kejar-kejaran (baru di sita),” ujarnya lagi.

Kini kelanjutan proyek Puskesmas Maritaing yang bersumber dari dana DAK Afirmasi T.A. 2017 itu menunggu penyelesaian somasi dari perusahaan rekanan PT. MJM kepada Pemda.

“Dong (PT. MJM) ada somasi jadi kapan sisi hukum somasi itu beres dulu baru kita lanjut kerja. Kita tidak berani lanjut. Kita juga pingin untuk cepat selesai (tahun ini),” kata pejabat Dinkes, Daniel Lapikoli.

Imanuel Blegur Minta Aparat Hukum Kaji Proyek Puskesmas Maritaing

Anggota DPR RI Komisi IX Dr. Imanuel E. Blegur, menghimbau aparat hukum untuk melakukan kajian terhadap mangkraknya proyek Puskesmas Maritaing.

Sebab, bagi dia, proyek Puskesmas tersebut dananya dikucurkan pemerintah pusat Rp.6,1 Miliar untuk membangun falkes guna menolong orang-orang susah di daerah perbatasan Alor-RDTL.

“Penegak hukum musti melakukan kajian. Melihat realitas dan realisasi seperti ini dari tahun 2017, kaitannya dengan kebutuhan masyarakat yang sangat tinggi di daerah perbatasan, ya, mestinya sudah harus melakukan penyelidikan,” katanya menjawab pertanyaan wartawan terkait posisi hukum dari kasus itu.

Ditanya ada dugaan unsur korupsi dari mega proyek Puskesmas Maritaing? Imanuel Blegur tidak ingin berpendapat. Meski begitu dia mengakui ada kerugian bagi masyarakat.

“Ah, itu saya tidak tahu (bila ada indikasi korupsi). Yang jelas bahwa ini sudah merugikan masyarakat,” tutup Imanuel E. Blegur.

Ia pun meminta kepada Pemda agar segera menyelesaikan sisa pekerjaan yang belum tuntas dikerjakan. Sebab, dana Afirmasi proyek tersebut kini tertampung di rekening Pemda.

“Kita akan menghimbau kepada Pemda untuk bagaimana mencari jalan keluarnya. Soalnya kontraktornya sudah di PHK. Kalau sudah di PHK berarti sisa dana masuk ke kas daerah,” tutup Imanuel E. Blegur.

Penulis: Demas Mautuka