Berharap Daya Lenting Lingkungan (Resilience) Dapat Menyelamatkan Gugusan Mali, Pantai Deere, Demi Nama Baik, Untuk Anak Cucu

0
626

Oleh : Paulus Edison Plaimo

Dalam ilmu ekologi dikenal suatu istilah yaitu Daya Lenting Lingkungan (Resilience). Yang dimaksud dengan daya lenting adalah kemampuan suatu lingkungan atau alam untuk kembali berada pada titik keseimbangan seperti sediakala, sebelum dieksplorasi atau paling tidak, mendekatinya. Waktu yang diperlukan tergantung dari volume sumber daya yang dieksplorasi. Semakin tinggi sumber daya yang dieksploitasi apalagi melampaui daya dukung lingkungan (carryng capacity), kemampuan alam atau lingkungan akan semakin sulit memperbaharui kembali kondisinya seperti sediakala. Walaupun dibiarkan dalam waktu yang relatif lama.

Kegiatan manusia mengubah lingkungan dilakukan karena adanya kebutuhan hidup. Kebutuhan ini akan menjadi semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Upaya pemenuhan kebutuhan manusia dipengaruhi oleh perkembangan budaya. Ilmu pengtetahuan dan teknologi sebagai hasil perkembangan budaya digunakan untuk mengembangkan berbagai industri yang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Ada dua komponen di dalam daya lenting (Resilience) yaitu: (a) kemampuan untuk menyerap atau menahan dampak tekanan atau stres (resistance); (b) kemampuan untuk pulih (recovery). Untuk tipe daya lenting dibagi menjadi dua yaitu secara biologis dan sosial. (a) Biologis. Daya Lenting Biologis adalah melihat kemampuan dari suatu ekosistem itu sendiri untuk bertahan atau pulih kembali dari gangguan yang ada disekitarnya. Contoh: Kasus suatu ekosistem karang yang mati. Untuk memulihkan ekosistem terumbu karang tersebut perlu adanya rekrutmen. Rekrutmen adalah dimasukannya individu terumbu karang baru ke populasi terumbu karang yang mengalami kematian untuk meransang perkembangan dan pemulihaan terumbu karang dalam suatu ekosistem. Keberhasilan rekrutmen terumbu karang merupakan kemampuan dari suatu koloni individual atau suatu sistem terumbu karang untuk mempertahankan diri dari dampak lingkungan, menjaga kemampuan pemulihan dan perkembangan. Ekosistem yang mati karena gangguan dapat tumbuh kembali dalam proses rekrutmen, melalui asosiasi dengan individu terumbu karang baru yang berasal dari tempat lain. Kesuskesan proses rekrutmen memerlukan kriteria-kriteria yang dapat menjamin proses rekrutmen ekosistem bisa berjalan dengan baik seperti, adanya ketersediaan substrat baru untuk larva karang baru menempel dan kemudian tumbuh. Kualitas air yang baik juga diperlukan seperti tersedianya suplai makanan, arus yang tidak terlalu kencang, sampainya cahaya matahari yang berarti perairan tersebut tidak keruh. Terakhir adalah adanya biota herbivora disekitar wilayah Rekrutmen tersebut untuk mengontrol jumlah alga yang tumbuh di wilayah tersebut. Karena alga merupakan kompetitor karang dalam proses rekrutmen. Sedangkan untuk tumbuh kembali, terumbu karang membutuhkan perbaikan dan pertumbuhan serta kompetitor yang tidak menganggu proses karang tersebut tumbuh kembali di tempat yang sama. Untuk daya lenting tumbuh kembali, faktor dari terumbu karang itu sendiri lebih banyak berperan dalam keberhasilannya.

Untuk melihat apakah di suatu ekosistem terumbu karang tersebut proses daya lenting (resilience) berjalan dengan baik dapat dilihat dari perhitungan tutupan karang keras yang tinggi. Selain itu bisa dilihat pula dari keanekaragaman tinggi, rendahnya gangguan serta penyakit, serta rentang (ukuran) koloni karang yang luas atau lebar. (b) Sosial. Daya Lenting (resilience) secara Sosial berarti adanya jaminan dari penduduk atau masyarakat sekitar untuk tidak adanya gangguan dari faktor manusia yang dapat menganggu ekosistem saat proses daya lenting berjalan untuk ekosistem tersebut kembali menjadi normal. Apablila faktor gangguan dari manusia dapat ditekan seminimal mungkin maka akan mengurangi tekanan dari terumbu karang itu sendiri, sehingga persentase untuk resistance dan recovery kembali akan lebih tinggi. Contoh: dalam masa pemulihan ekosistem terumbu karang perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat setempat untuk tidak merusak atau menambah faktor gagalnya pemulihan tersebut.

Daya lenting lingkungan yang saat ini dampaknya mulai dirasakan oleh masyarakat yaitu, adanya peningkatan pendapat nelayan, adalah pemulihan terumbu karang di kawasan Hading Mulung yaitu kawasan pesisir pulau Lapang-Batang oleh masyarakat Desa Baranusa, Desa Baraler, Desa Illu, Desa Piringsina, Dan Desa Blangmerang. Sebagaimana Hading Mulung adalah penutupan air laut dari segala bentuk aktivitas melalui proses adatia, ternyata pemulihan secara biologis berjalan lebih cepat karena ditopang melalui aspek sosial. Asosiasi terumbu karang hidup secara baik sehingga menjadi tempat yang baik bagi habitat ikan.

Sebaliknya akan muncul kesan yang merisaukan atau mengkuatirkan, manakala pengamatan dan pemahaman kita diarahkan pada wilayah perbukitan maupun pesisir Mali hingga pantai Deere. Semua kita (penulis) berpendapat bahwa perubahan lingkungan dapat terjadi karena faktor alam maupun aktivitas manusia (antrophogenik). Perubahan lingkungan yang disebabkan oleh manusia dan berakibat pada alam misalnya: penebangan hutan. Penebangan hutan disepanjang gugusan perbukitan daerah Mali dan pantai Deere untuk dijadikan kayu bakar yang dijual sebagai sumber pendapatan lain mengakibatkan fungsi hutan, sebagai penahan air hujan akan berkurang. Selain itu areal ini merupakan perbukitan karst dan kedalaman humus tanah (top soil), hanya kurang lebih lima centimeter membuat peluang daya lenting lingkungannya mengecil. Oleh karena itu apapun tantangannya, upaya menyadarkan masyarakat harus terus dilakukan, tentang bahaya erosi dan banjir, bahkan lebih jauh lagi, akan bernasib buruk bagi masa depan pertanian. Sebab dengan membiarkan kondisi perbukitan yang terus dalam keadaan tandus akan mengurangi nutrisi tanah karena kelembapan tanahnya rendah. Nilai derajat keasaman (pH) tidak sesuai standar kebutuhan, sehingga berpengaruh pada keberadaan mikroorganisme pengembur tanah atau penyubur tanah melalui proses fiksasi biologis nitrogen. Dalam tatanan ini dapat berpengaruh pada lahan jika suatu saat kembali digarap untuk dijadikan lahan pertanian. Lahan-lahan di perbukitan ini tidak dapat berfungsi dan memberikan manfaat sesuai dengan peruntukannya.

Situasi dari aspek keterancaman hampir sama jika kita menoleh ke pesisir. Masih di kawasan yang sama yaitu pesisir Mali hingga Pante Deere, juga terancam kehilangan keindahannya (view) yang telah menggoda semua hati yang pernah ke sana. Saat ini, andaikata kita berjalan di sepanjang pantai Mali dan pantai Deere terlihat berderet tembok penahan gelombang (jalan pintas menahan abrasi) dan banyak pohon-pohon di bibir pantai yang roboh tergerus air, akibat tatanan perakaran yaitu pasir terus diambil dan dijual. Apabila peristiwa alam ini dibiarkan dan tidak ada solusi maka keindahan kawasan pantai Mali hingga pantai Deere suatu saat tinggal kenangan dan dapat menjadi tumbal kemarahan generasi mendatang. Karena sesuatu yang berharga, dan baru dipahami telah sirna.

Kekayaan gugusan Mali sampai pantai Deere sungguh luar biasa, jika diamati secara seksama, di beberapa lokasi di areal perbukitan terdapat tebing-tebing untuk wisata outbound. Sehingga bisa saja, kita tidak perlu repot-repot ke negara bagian Arizona (Amerika serikat) untuk melihat Grand Canyon karena sudah tersedia di pantai Deere. Hanya kita perlu menjaga ketersediaan oksigen melalui pepohonan sebagai rest area sehingga kesejukan dapat dirasakan oleh pengunjung saat menikmati kuliner. Dan, alangkah lebih baik jika dikolaborasi dengan marine tourism menjadi sepaket, untuk memanjakan pengunjung. Sepertinya kita perlu belajar mengenai ekowisata Malapascua Island (Filipina) seperti yang dilaporkan oleh Treasur Shark, Malapascua Island yang secara kebetulan merupakan clerning station (stasiun pembersih) hiu oleh ikan-ikan kecil yang hidup dan berasosiasi dengan terumbu karang di kepulauan itu. Seluruh hiu berdatangan dari segala penjuru pada setiap bulan April untuk bersihkan dari mikroorganisme yang tersangkut ditubuh hiu. Sehingga menjadi tontonan pengunjung dan menjadi tempat diving terfavorit, karena ramai dikunjungi oleh pengunjung dari berbagai negara. Pendapatan masyarakat di pulau ini cukup tinggi dan seluruh warga di pulau itu hidup sangat sejahtera.

Tingkat kesejahteraan masyarakat Malapascua Island (Filipina) yang tinggi hanya dengan memanfaatkan aktivitas biologi hiu. Jika dibandingkan dengan daerah kita, perbedaannya sungguh seperti langit dan bumi. Karena daerah kita banyak sekali lokasi-lokasi wisata yang berkelas dunia seperti; Tuti Adagae, kampung tradisional Takpala, kampung tradisional Bampalola, keindahan bawah laut selat Pantar, bahkan air laut dingin, dan tentu masih banyak lagi. Namun, pertanyaannya mengapa warga masyarakat belum merasakan dampak dari aspek ini? jawabannya adalah komitmen pengelolaan yang belum maksimal. Bagaimana tidak, jalan menuju lokasi wisata Pantai Deere dan pantai Batu Putih dengan view yang telah tersohor itu, para pengunjung nyaris mati suri (tidak sadarkan diri) akibat harus melewati tempat pembuangan sampah yang mengeluarkan oroma melalui udara atau asap yang tidak sedap yang mengandung senyawa diocsin senyawa kimia ini sangat berbahaya. Sehingga tidak heran ketika ditelusuri, warga disekitar lokasi ini banyak diantaranya yang telah terpapar dan menderita penyakit Tuberkulosis (TBC). Lebih mencengangkan, sejak puluhan tahun keberadaan lokasi ini, warga sekitar belum pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah melalui bantuan dalam bentuk apapun, termasuk melalui anggaran coorporate social responsibility (CSR). Ironis sekali ya? sebenarnya situasi ini bagian dari rancangan pembunuhan terselubung dengan meminjam tangan lingkungan yang kita kotori.

Pada fase penyimpulan, konstruksi pemahaman yang dapat disampaikan, bawasannya untuk menemukan kembali daya lenting lingkungan atau keseimbangan (resilience), di kawasan perbukitan dan pesisir pantai Mali hingga Pantai Deere akan memerlukan waktu yang cukup panjang oleh sebab tingkat kerusakan yang cukup tinggi. Ini berhubungan dengan eksploitasi sumber daya (resource) yang melampaui daya dukung lingkungan (carryng capacity). Bila menginginkan adanya pemulihan di kawasan ini maka aspek resilience secara sosial harus dikedepankan.

Potret kehidupan anak cucu kita dimasa depan dapat terlihat dalam sketsa perilaku kita yang kita lakukan hari ini. Oleh karena itu sudah saatnya semua komponen mulai dari pemerintah, swasta, dan masyarakat berkunpul dan menjadikannya isu yang urgen untuk pemulihan kawasan perbukitan dan pesisir Mali hingga pantai Deere.

Akhir nya, penulis melalui tulisan ini menyampaikan selamat Tahun Baru, dan semoga di Tahun Baru ini, kembali kita menemukan adanya kreativitas baru di dalam setiap kebijakan pemerintah terutama mengenai upaya pemulihan kawasan perbukitan dan pesisir pantai Mali hingga pantai Deere.

Penulis adalah pengajar di Universitas Tribuana Kalabahi.