Sebulan, Sampah Menumpuk di Pasar Kadelang, Alor

0
628

Tumpukan sampah menumpuk di Pasar Kadelang sudah sebulan. Gambar diambil, Jumat, (4/1), siang.

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Tepat sebulan, sampah menumpuk di Pasar Kadelang Kelurahan Kalabahi Timur, Kabupaten Alor, NTT. Para pedagang dan warga yang berbelanja di situ acapkali mengeluh, sebab sampah itu menghasilkan aroma tak sedap.

“Sudah satu bulan sampah dibiarkan begitu saja,” kata pedagang, Kuratima, saat ditemui wartawan, Jumat, (4/1/1/2019) di Pasar Kadelang.

Dia mengatakan, sampah tersebut biasanya diangkut petugas UPT Pasar. Namun sejak awal Desember 2018, sampah-sampah itu tak kunjung juga diangkut petugas.

“Biasanya ada mobil yang muat, tetapi sejak bulan Desember kemarin, tidak ada petugas yang angkut,” ujarnya.

Akibat tumpukan sampah itu telah memproduksi zat kimia yang tercampur di udara, dengan konsentrasi yang rendah. Bila ditangkap dengan indra penciuman manusia, maka dapat berupa bau yang tak sedap.

“Baunya menyengat. Setiap hari kami mencium bau busuk. Orang datang belanja juga cepat-cepat ingin pulang karena bau (busuk) itu,” ungkapnya.

Kuratima menyebut, aroma bau busuk itu sangat mengganggu aktivitas dia dan rekan-rekannya berjualan di situ. Bahkan ada kios yang terpaksa ditutup akibat sampah yang menumpuk persis di depan perkiosan.

“Kios-kios itu ditutup. Mereka tidak bisa jualan karena bau. Kasihan juga nasib kita ini. Kita mau bagaimana, ya mau tidak mau kita penjual sayur ini harus tetap jual baru bisa hidup,” keluhnya sambil melirik deretan kios yang ditutup persis depan tumpukan sampah.

Terkait penyebab utama sampah tersebut tidak diangkut, Kuratima mengaku tidak tahu masalahnya. Meski begitu dia berkata, rutin membayar kewajiban pajak (retribusi) pasar setiap bulan.

“Kendalanya kami tidak tahu. Silahkan tanya pada petugas UPT di belakang. Kalau retribusi kami bayar setiap bulan. Biasa sebulan kami bayar Rp.45 ribu. Rata-rata semua di sini bayar retribusi pasar. Ada yang bayar antara Rp.30 ribu hingga 45 ribu. Kita pikir itu sudah termasuk tarif biaya angkut sampah bagi para petugas,” Kuratima menambahkan.

Ia berharap, pemerintah segera mengangkut sampah tersebut, agar aktivitas pasar bisa higienis. “Kalau bisa lekas diangkut. Kasihan tiap hari kami di sini cium bau busuk terus,” ucapnya, sambil tidak ingin beberkan kerugian yang dialami akibat bau busuk sampah.

Asni, petugas Pasar Kadelang yang ditemui media ini mengakui sampah-sampah itu belum diangkut petugas. Walau demikian, dia pun tidak tahu penyebabnya.

“Untuk urusan pasar kami tidak tahu. Ya biasanya diangkut (sampah-sampah) itu. Mulai liburan ini sampah sudah tambah full. Itu bukan sampah dari pasar saja tetapi dari paman/bibi dorang di belakang juga biasa over sampah di depan semua. Jadinya menumpuk itu. Kalau di pasar punya ya tidak sebanyak begitu. Lebih jelasnya ke kantor saja,” pungkas Asni.

“Langsung sama pak Kasis Perdagangan dan pak Kapas (kepala UPT Pasar) bapak Urbanus Dukabain saja. Kakak (wartawan) langsung ke kantor saja. Kebetulan mereka sedang rapat sekarang. Kami di sini hanya juru pungut MCK saja,” tutup Asni, sambil mengajak wartawan menemui bos-bosnya di kantor Perdagangan Kabupaten Alor, kompleks Daerah Lama.

Pantauan wartawan, warga yang berbelanja di pasar, menutup mulut dan hidung saat melewati tumpukan sampah. Sebagian lainnya menggunakan dengan masker. *(dm).