Selamat Datang 2019: Saatnya Merubah Bencana Jadi Berkah

0
624

Oleh Gerson Hans Maure

Tahun 2018 sudah berlalu, cerita dan kenangan indah telah pergi meninggalkan kita dalam hitungan menit dan jam. Semuanya menjadi cerita indah dan kenangan yang tak akan terlupakan. Namun, ingatan kita tidak mudah begitu saja melupakan kisah-kisah pilu yang melanda kemanusiaan kita. Tercatat beberapa waktu lalu secara susul menyusul penduduk negeri ini ditimpa musibah, didahului dengan gempa besar yang melanda pulau Lombok yang menyisakan kerusakan bangunan rumah dan fasilitas umum juga korban yang tidak sedikit. Tak lama berselang gempa dan tsunami pun melanda Kota Palu dan Donggala yang juga mengakibatkan kelumpuhan kota ini selama beberapa waktu, warga kehilangan keluarga, rumah-rumah dan harta benda hanyut dan tertelan gempa. Bencana tsunami selat sunda yang melanda banten dan lampung juga menyebabkan kehilangan nyawa, rumah-rumah dan harta benda. Bencana yang melanda negeri ini merupakan peristiwa mengejutkan karena tidak didahului dengan deteksi gejala awal.

Dilihat dari segi jumlah kejadian bencana, tahun 2018 tak beda jauh dengan jumlah kejadian bencana tahun 2016 yaitu 2.306 kejadian dan 2017 sebanyak 2.392 kejadian. Namun dampak yang ditimbulkan akibat bencana pada 2018 sangat besar, jumlah korban meningkat hingga 1.072 persen (Kompas, 19/12/2018).

Berdasarkan rilis Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Indonesia mengalami 2.426 kejadian bencana sepanjang tahun 2018. Tercatat sebanyak 4.231 orang meninggal dunia dan hilang, 6.948 orang luka-luka, 9.956.410 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana. Selain itu, tercatat ada sebanyak 341.226 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, serta mengakibatkan kerusakan 1.789 fasilitas pendidikan, 129 fasilitas kesehatan dan 1.348 fasilitas ibadah (IDN Times, 27/10/2018). Jumlah itu kemungkinan akan terus bertambah hingga akhir 2018.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat bencana menyebabkan kerusakan dan kerugian cukup besar. Gempa di Lombok dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat menimbulkan kerusakan dan kerugian senilai Rp17.13 triliun. Gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan kerugian dan kerusakan dengan nilai lebih dari Rp18.4 triliun. Sementara tsunami selat sunda menelan 429 korban jiwa, 154 hilang, 1485 luka-luka, 16.082 mengungsi dan 913 rumah rusak dengan kerugian yang masih dihitung (CNCB Indonesia, 29/12/2018). Tsunami selat sunda seolah menjadi bencana penutup akhir tahun 2018 dari rentetan bencana yang melanda negeri ini.

Melihat kenyataan tersebut, menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan potensi bencana alam terbesar di dunia. Dari seluruh bencana yang terjadi di tahun 2018, BNPB mencatat jumlah kejadian puting beliung 605 kejadian, banjir 506, kebakaran hutan dan lahan 353, longsor 319, erupsi gunung api 55, gelombang pasang dan abrasi 33, gempa bumi yang merusak 17, dan tsunami 1 kali (Kompas, 25/10/2018). Dengan meningkatnya kejadian bencana dari tahun ke tahun, BNPB meramal banyak bencana alam bakal terjadi di Indonesia pada tahun 2019. Diprediksi akan lebih dari 2500 kejadian bencana bakal melanda Indonesia (detikcom, 19/12/2018). Gempa, kekeringan, banjir, longsor, dan puting beliung akan mendominasi. Meskipun demikian, 95 persen dari bencana yang terjadi diperkirakan merupakan bencana hidrometeorologi (bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca). Informasi ini sangat penting bagi masyarakat untuk tetap siaga dan waspada. Menyikapi hal tersebut, diperlukan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana-bencana di tahun 2019. Musibah bencana haruslah segera ditangani dan diberikan solusi, dikarenakan dampak bencana akan selalu menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar. Sesungguhnya pemerintah harus memahami bahwa posisi Indonesia berada di daerah rawan bencana yang tentunya harus dilakukan upaya maksimal untuk menghindari dan meminimalisir terjadinya bencana alam.

NTT menempati peringkat empat daerah rawan bencana secara nasional. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT mencatat ada 11 potensi bencana yang biasanya terjadi di propinsi kepulauan ini (Pos Kupang, 24/09/2018). Kesebelas potensi bencana itu di antaranya tsunami, banjir, gunung meletus, kejadian luar biasa penyakit, puting beliung, serta kekeringan dan lain-lain. Bahkan list desa kelas bahaya tsunami oleh BNPB tahun 2018 melaporkan hampir seluruh wilayah NTT berpotensi tinggi, di Alor sekitar 109 desa/kelurahan. Pemberian papan informasi dan peta bencana bagi setiap warga penting dilakukan untuk memperkecil resiko jumlah korban jika terjadi bencana. Selain itu, penumpukan sampah di Desa Pante Daere Kecamatan Kabola tidak bisa dianggap sepele. Pemerintah Kabupaten Alor harus serius menangani masalah sampah tersebut sebelum berakibat buruk bagi warga sekitar, akibatnya bisa menimbulkan korban jiwa. Sampah juga dapat menimbulkan bencana longsor tumpukan sampah, sebagai sumber penyakit seperti diare, malaria dan lain sebaginya serta dapat mencemari lingkungan seperti pencemaran tanah, udara dan laut. Kompas (22/02/2011) memberitakan bahwa pada tahun 2005, 157 warga Leuwigajah di Jawa Barat meninggal akibat curah hujan tinggi dan ledakan gas metana pada tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA). Selain itu, dua kampung juga harus hilang dari peta karena digulung longsoran sampah dari TPA.

Di Alor, ketersediaan anggaran untuk sampah yang dialokasikan dari APBD tidak mencapai 1 persen (tribuanapos.com, 19/12/2018). Pemerintah harus serius memberi dukungan kebijakan politik anggaran untuk mengatasi permasalahan sampah di kota. Tentunya kita tidak menginginkan kejadian di Leuwigajah terjadi di Alor. Kita mesti belajar dari peristiwa tersebut untuk mencegah resiko bencana sejak dini agar tidak berakibat fatal saat terjadi bencana.

Semua kita diharapkan berperan aktif dalam berbagai upaya mitigasi bencana. Kerjasama berbagai pihak perlu digalakan untuk meminimalisair bahkan menghindari bencana. Selamat tinggal tahun 2018, selamat tinggal pula kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan. Mari kita mulai hidup baru di tahun baru. Tahun 2019 ganti perilaku dengan langkah-langkah praktis misalnya dengan gerakan membawa air minum dalam botol, tidak menggunakan plastik sebagai pembungkus jajan dan lain sebaginya. Sehingga perilaku buang sampah sembarangan dapat ditinggalkan.

Mengurangi sampah berarti mengurangi jumlah bencana. Bencana di tahun 2019 harus bisa diminimalisir bahkan dapat dihindari. Selamat tahun baru 2019, tahun penuh rahmat dan berkah.

*Opini: Penulis members WAG Pemerhati Lingkungan Alor.