Berharap Bambang Noorsena Nyapres

0
1441

Oleh: Monique Rijkers

Seandainya bisa baca Al Quran menjadi syarat calon presiden di Indonesia yang ditetapkan KPU, maka bersyukurlah mereka yang juara Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) karena peluang jadi presiden lebih besar. Begitu pula peluang Pdt Syaifuddin Ibrahim aka Abraham ben Moses yang hafal Al Quran atau pemimpin Kristen Ortodoks Suriah Bambang Noorsena yang fasih bahasa Arab dan paham Al Quran berpeluang besar untuk lolos. Kan cukup bisa baca Al Quran ya….hehehe.

Para da’i di Aceh yang mengusulkan tes baca Al Quran mungkin lupa kalo sekarang semua orang dari agama apapun bisa jadi presiden di Indonesia. Usulan syarat presiden harus Islam sudah dibatalkan sejak BPUPKI tahun 1945, tetapi syarat orang Indonesia asli baru dalam UUD 1945 pasal 6 ayat 1 baru diubah tahun 2001 melalui Perubahan Ketiga UUD 1945. Terima kasih kepada Ketua MPR masa itu, Amien Rais (masih idealis hihihi) yang setuju mengetuk palu momen bersejarah tersebut. Berkat amandemen tersebut, warga negara berketurunan Tionghoa, Arab, India, dll serta agama apapun bisa menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia asal sejak lahir menjadi WNI dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain. Artinya sudah 17 tahun lamanya Indonesia bebas dari polemik kesukuan dan sudah 73 tahun lepas dari sentimen agama presiden.

Meski secara hukum, Presiden Indonesia ngga harus Islam tetapi masyarakat masih berkutat di isu agama. Boro-boro punya presiden dari minoritas, jadi gubernur aja udah babak belur duluan dilanda badai ayat “jangan pilih pemimpin non-muslim”. Idealnya isu yang diangkat selama pemilu dan pilkada adalah isu-isu nasionalis tetapi masyarakat Indonesia yang religius ini memang mabuk agama sehingga politisasi agama pasti laku. Meski kedua capres Pilpres 2019 sama-sama Islam, ternyata itu belum cukup. Kubu Jokowi yang banyak dipilih oleh suara nasionalis, belakangan ikutan main isu agama juga karena takut capresnya kalah bersaing dengan kubu Prabowo yang dipilih suara religius.

Keislaman capres menjadi penting dipromosikan oleh tim kampanye untuk mematahkan gosip PKI dan membantah klaim keturunan Tionghoa. Pemilih masih harus diyakinkan bahwa keluarga capres pun sudah Islam sejak lama, maka ada silsilah keluarga capres yang disebarluaskan. Untuk keluarga, Prabowo yang lahir dari keluarga Kristen sudah pasti kurang Islami dibanding keluarga Jokowi. Meski sudah Islam tulen, Jokowi masih dihajar isu anti-Islam karena dituduh kriminalisasi ulama. Padahal para pentolan 411 dan 212 yang punya kasus seperti Rizieq Shibab sudah dihentikan dan Maruf Amin sudah dipilih jadi cawapres. Jokowi yang bisa dinobatkan sebagai presiden yang paling sering berkunjung ke pesantren (hingga 2018 sekitar 80 pesantren) dan bangun rusun untuk santri, bangun Universitas Islam Internasional pun masih dianggap anti-Islam.

Mungkin karena Jokowi bisa ngaji, Prabowo sebut kepanjangan gelar nabi (SAW) aja salah maka dianggap perlu buat acara lomba baca Al Quran. Kans Jokowi sebagai “capres paling Islami” lebih besar karena Prabowo sudah mengakui ngga pernah jadi imam shalat. Kita ini mau memilih Presiden Republik Indonesia atau Republik Islam Indonesia sih? Bahkan negara mayoritas Islam lain seperti Nigeria, Senegal dan Lebanon bisa kok punya presiden non-muslim. Olusegun Obasanjo yang Kristen bisa menjadi Presiden Nigeria tiga periode, baru tahun 2015 Presiden Nigeria dari kelompok Islam. Jika Nigeria, Senegal dan Lebanon bisa punya presiden dari minoritas untuk memimpin mayoritas Muslim, kenapa di Indonesia tidak bisa? Di Lebanon bahkan ada pembagian jatah untuk presiden dari Kristen Maronite, perdana menteri dari Islam Sunni dan posisi penting lain diberikan untuk Islam Syiah, Druze dan Kristen Ortodoks.

Bukankah rakyat Indonesia seharusnya jauh lebih demokratis dari Nigeria dan Lebanon karena ada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika? Kenapa ya di Indonesia yang jadi patokan adalah keislamannya? Saya berharap presiden yang terpilih bisa membawa Indonesia aman makmur, damai sejahtera, bebas korupsi, tanpa sekat diskriminasi. Kualitas imannya terlihat dari kinerjanya, dari kontribusinya buat semua orang. Daripada mengeluh soal politisasi agama, saya mendorong agar mulai tahun 2019 ini, mereka yang punya kemampuan dari kalangan minoritas untuk mulai bekerja, menyusun rekam jejak jempolan untuk menjadi capres tahun 2024 nanti.

Saya berharap Indonesia yang mayoritas Muslim seperti Nigeria, Senegal dan Lebanon bisa punya presiden dari minoritas juga! Sayang sekali jika potensi terbaik dari kalangan minoritas ngga bisa berkontribusi untuk bangsa ini hanya karena agamanya. Hanya orang intoleran yang senang pilih presiden hanya karena agamanya sama. Semoga lima tahun lagi, generasi tua kan sudah pensiun dari politik, parpol diisi generasi muda yang emoh main politik identitas. Kita memilih karena orangnya bagus bukan agamanya.

*Foto yang dikirim teman saya Nurlaliyah, merupakan gambar anak madrasah di Tuban, menara masjid dan menara gereja yang berpelukan. Keren ya…mungkin kelak yang menggambar ini ngga akan parno untuk memilih presiden dari minoritas.

#IndonesiaToleran

*Opini: Penulis mantan reporter Metro Tv. Tinggal di Jakarta.