Urgensi Menolak Relokasi Material di Daerah Intertidal Pantai Mali

0
553

Oleh : Paulus Edison Plaimo

Tulisan ini bukan sebagai upaya mencari-cari kesalahan pihak tertentu, apalagi mengungkit persoalan yang mungkin saat tulisan ini diterbitkan oleh banyak orang, sudah dilupakan, bahkan tidak ingat lagi. Akan tetapi penulis mencoba mencerna tragedi lingkungan ini dengan pendekatan keilmuan yang kebetulan penulis tekuni. Dan lebih penting lagi agar kita segenap pembaca tidak sekedar hadir sebagai pencemoh tragedi lingkungan ini, tetapi dapat menemukan alasan mengapa kita menolak upaya merelokasi material di daerah intertidal wilayah Pantai Mali yang dianasir untuk kepentingan usaha jasa rekreasi seperti cave, bungalow dan lain-lain. Sesuai dengan pemahaman penulis, isi tulisan ini, mengupas persoalan di atas dari sisi ekologi. Sebab jika terjadi perubahan lingkungan secara mendadak atau tiba-tiba aspek utama yang muncul dari organisme tatkala habitat terganggu adalah proses adaptasi. Kalau tidak maka dapat stres dan mati (extinct).

Ekologi sendiri merupakan cabang ilmu dari ilmu Biologi yang dikhususkan untuk mempelajari tentang hubungan atau interaksi antar organisme maupun organisme dengan lingkungannya. Sehingga ketika dikaitkan dengan lingkungan, dalam hal ini adalah daerah intertidal maka sedikit banyak informasi tentang daerah intertidal pun harus menjadi bagian yang pantas diketahui. Daerah intertidal adalah daerah pantai yang terletak antara pasang tertinggi dan surut terendah (Nyabaken, 1992). Dari sisi letaknya menurut Brewer (1994), zona intertidal merupakan zona yang penting dalam aspek lautan keseluruhan. Karena sebagai zona penyedia nutrisi, mulai dari organisme kecil sampai organisme tingkat tinggi dengan sistem trofik.

Gangguan yang timbul di zona ini dapat menjadi bencana bagi kehidupan di habitat yang lain. Karena dari zona ini merupakan lumbung pangan bagi yang lainnya, sebagian sumber nutrisi di lautan dieksport dari zona intertidal sehingga zona ini menjadi sangat vital, bahkan penyanggah. Jika daerah ini subur maka nelayan tidak perlu ke tengah laut untuk menangkap ikan besar karena mereka akan datang ke areal ini mencari ikan-ikan kecil sebagai nutrisi. Oleh karena itu betapa disadari pentingnya daerah intertidal bagi keseimbangan alam maka seringkali terlihat banyak aliansi yang hadir mewakili individu atau kelompok menolak alih fungsi zona ini dalam bentuk apapun. Kita masih ingat penolakan reklamasi Teluk Benoa, Bali, reklamasi Teluk Jakarta dan masih banyak penolakan-penolakan lainnya.

Habitat suatu organisme adalah tempat di mana organisme itu ditemukan. Lebih lanjut mengenai tempat di mana organisme itu menjaga peranan fungsional, sistem trofik, posisi dalam gradien suhu, kelembaban, dan pH adalah nieche atau relung ekologi. Sehingga jika habitat adalah tempat orgnaisme itu hidup maka nieche atau relung ekologi merupakan kedudukannya. Adaptasi organisme terhadap habitat apalagi nieche atau relung ekologi memerlukan waktu yang tidak pendek (short time) oleh karena persiapan secara anatomi dan fisiologi. Anatomi berhubungan dengan adapatasi secara fisik, sedangkan adaptasi fisilogis bersangkutan dengan sistem organ. Pada tahapan ini merupakan masa kritis suatu organisme untuk tetap survive (bertahan) atau punah.

Adaptasi biologis adalah setiap karakteristik (morfologi atau anatomi), fisiologis, atau perilaku struktural dari suatu organisme atau kelompok organisme (seperti spesies) yang membuatnya lebih cocok dalam lingkungannya. Dan akibatnya meningkatkan peluangnya untuk bertahan hidup dan keberhasilan reproduksi.

Karena variabilitas individu, proses adaptasi ini seringkali kurang berhasil, oleh sebab organisme yang beradaptasi dengan lingkungan mereka harus juga terpenuhi beberapa unsur penting yaitu; makanan yang aman, air, dan nutrisi; memperoleh udara, kehangatan, dan ruang; mengatasi kondisi fisik seperti suhu, cahaya, dan panas; mempertahankan diri dari musuh alami mereka; mereproduksi; merespon perubahan di sekitar mereka.

Adaptasi terjadi sebagai respons terhadap perubahan lingkungan, gaya hidup, atau hubungan dengan organisme lain. Dinamika lingkungan, terjadi pergeseran habitat baik secara sukarela atau dipaksa, dan aktivitas manusia dapat menempatkan organisme dalam sebuah niche yang baru atau dalam tekanan atau tekanan lingkungan. Dalam keadaan seperti itu, organisme memerlukan karakteristik yang sesuai dengan situasi baru.

Organisme yang tidak sesuai beradaptasi dengan lingkungan mereka akan baik harus keluar dari habitat atau mati. Istilah mati dalam konteks adaptasi berarti bahwa tingkat kematian di seluruh populasi spesies melebihi angka kelahiran untuk jangka waktu cukup lama bagi spesies yang menghilang.

Menurut ensiklopedi nasional Indonesia (1990), pemindahan material atau apapun di alam bertujuan untuk memperbaiki areal yang tidak berguna menjadi daerah yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Antara lain untuk sarana prasarana seperti pelabuhan, bandara, sarana sosial dan rekreasi dan sebagainya, tidak serta merta merubah tatanan kehidupan organisme disekitarnya. Karena mengaktifkan kembali sitem kehidupan di lingkungan itu membutuhkan waktu yang tidak pendek dengan resiko kehilangan dua spesies biota nativ. Selain itu disadari atau tidak tatanan rupa bumi melalui komponen-komponen yang sudah terbentuk sejak lama seperti bakau, batu karang, dan lain sebaginya telah terjadi aliran energi secara mutualisme. Misalnya bakau atau mangrove membutuhkan batu karang sebagai penahan gelombang untuk pertumbuhan benih dan menguatkan akar sehingga memisahkan komponen itu satu dengan yang lainnya, kita telah merusak harmonisasi ini.

Pemindahan material di daerah intertidal, adalah bagian dari upaya mengurangi diversitas (keragaman) sebagai salah satu contoh organisme penting yang terabaikan. Yang dapat ditemukan di daerah ini adalah teripang. Masa larva teripang bersifat planktonik, melayang-layang pada kolom air, sebelum mengendap (setling) mencari substrat penempelan pada fase akhir larva yang kemudian berkembang menjadi anakan (juvenil) teripang dan bersifat bentik. Oleh kerana itu kebutuhan terhadap cahaya sangat tinggi sehingga sering kali juvenil teripang ditemukan di daerah intertidal. Teripang dengan cara makan sebagai deposit fider akan menyerap makanan bersama pasir kemudian mengeluarkan kembali pasir, sehingga keberdaan teripang dapat menyuburkan tempat di mana teripang itu ada sehingga sangat baik bagi organisme lainnya seperti ikan, kepiting, udang atau yang lainnya. Kehadiran teripang sebagai organisme kunci dan penjaga keseimbangan dalam suatu habitat. Jika kesuburan suatu perairan terganggu maka berdampak pada penurunan populasi organisme lainnya.

Selain organisme disebut di atas tidak kalah penting juga adalah peran mangrove yang ketika relokasi material ikut di potong. Sebenarnya dari sisi fungsional keberdaan mangrove berperan penting dalam menjaga kestabilitasan produktivitas dan ketersediaan sumberdaya hayati wilayah pesisir. Karena merupakan daerah asuhan (nursery ground), pemijahan (spawning ground) dan tempat mencari makan bagi ikan (feeding ground), beberapa jenis biota perairan seperti udang, ikan dan kerang-kerangan serta sebagai sanctuary kehidupan liar dan mangrove yang dikenal sebagai pemasok hara dan makanan bagi plankton serta menciptakan suatu rantai makanan yang kompleks di perairan sekitarnya dan sebagai pengimpor nutrisi ke samudra luas.

Selain itu dengan tindakan ini secara fisik kita meciptakan jalur kolom air melalui pengerukan. Jalan air ini ketika air pasang akan langsung berhadapan dengan bibir pantai tanpa penahan atau barier, sehingga laju abrasi akan lebih cepat.

Upaya pengehentian relokasi material di daerah intertidal Pantai Mali melalui rekaman vidoe menggunakan akun facebook oleh Ibu Ruth QL Dimu yang kemudian menjadi viral sehingga memaksa beberapa pihak mengehentikan kegiatannya itu dapat diberi apresiasi bahkan sudah sesuai dengan yang roh di dalam UU Lingkungan Hidup No 23 Thn 2016 pasal 65 ayat 3; setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.

Menurut penulis kejadian ini dapat dijadikan pintu masuk untuk belajar mengapresiasi para pemerhati lingkungan. Oleh karena dari sekian banyak jumlah penduduk yang ada, mereka telah menempatkan diri tidak saja secara fisik tetapi mental untuk mengasah atau bahkan bertindak untuk pemeliharaan lingkungan. Sebaliknya diharapkan untuk tidak segan-segan memberikan hukuman atau ganjaran bagi mereka yang telah memperlakukan alam sesuka hati dan telah melenceng dari ketentuan UU.

Seruan roh dalam perbincangan ini penulis mengajak kita semua, ketika mengelola alam atau lingkungan untuk kepentingan kita, sedapat mungkin tidak merubah apapun yang telah tersedia di alam atau lingkungan. Jika kita percaya bahwa alam atau lingkungan adalah ciptaan-NYA maka dengan mengubahnya kita sedang meragukan karya NYA.

*Opini: Penulis adalah pengajar diĀ Univ. Tribuana Kalabahi.