Pergaulan Bebas yang Beralasan

0
690

Oleh: Hasniati Hasan Salo, dan Gusti O. Hingmane, S.Pd.,Gr
(Siswi dan Guru dari SMK Negeri Ampera, Kabupaten Alor)

Ada seorang kakak di kompleks saya (Hasniati-red), yang bernama Ryo (alias-red). Dia adalah anak yang sangat baik, patuh terhadap orang tua, rajin sholat, pintar, dan juga pandai membaca Al-qur’an.

Selama hidupnya, dia bisa mengumpulkan uang untuk keperluan sehari-hari dalam keluarga. Hidupnya sangat tertata dan tidak terpengaruh dengan dunia luar.

Namun, pada umurnya yang ke dua puluhan tahun, dia mulai bergaul dengan teman-temannya, yang semula hanya bersenang-senang. Tetapi, di situ, dia mulai mengenal apa yang dinamakan dunia luar. Dia mulai berpacaran, bahkan mengkonsumsi narkoba. Kehidupannya yang dulu, mulai ditinggalkan perlahan-lahan.

Pada suatu saat, ada seorang teman barunya, yang bernama Fendi (alias-red). Fendi adalah seorang pemuda yang sudah kecanduan narkoba. Ia bahkan sampai mengejek Ryo, sampai berkata, “ah… cowok macam apa loe ngak berani beginian”. Karena Ryo merasa diremehkan. Ia pun mencoba dengan niatnya, hanya mencoba-coba. Tetapi, ternyata, setelah memakai narkoba, dia mulai ketagihan. Ia mulai menghalalkan semua kegiatan untuk dapat membeli narkoba.

Pada suatu hari, Ryo dan Fendi menghabiskan suatu malam di rumahnya Fendi. Mereka berpesta pora mengkonsumsi narkoba. Kejadian itu membuat mereka bertingkah di luar batas logika. Sebagai contoh, mereka memutar musik dengan suara keras, berjoget dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Akibatnya, tetangga di sekitarnya terganggu dan membuat tetangga sekitar menelpon polisi. Polisi pun menangkap mereka.

Saat itu juga, Ryo tidak berdaya lagi. Dia langsung diantar ke rumah sakit. Sedangkan Fendi, dibawa ke kantor polisi. Di sana, Fendi dimasukkan ke tempat rehabilitasi.

Dari cerita singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa, akibat pergaulan bebas, besar pengaruh negatifnya terhadap seseorang. Dan tentu, inilah aksi para pengguna untuk mecari teman untuk menikmati narkoba. Nada ini juga diutarakan oleh http://www.organisasi.org/19/07/2018, “orang yang sudah menjadi korban narkoba, mungkin akan berusaha mengajak orang lain yang belum terkontaminasi narkoba agar orang lain ikut bersama merasakan penderitaan yang dirasakannya”.

Pasti semua kita akan bernada, tindakan seperti ini akan menghancurkan semua bangsa yang ada di jagad raya ini, baik bangsa Indonesia, maupun bangsa lain. Walaupun, bangsa itu betapa kuatnya, pintarnya atau canggihnya, tentu akan hancur oleh karena narkoba. Apalagi, bangsa yang datang dari ketiadaan regulasi yang kuat, dan kemudian masyarakat yang asalnya dari rumah tangga yang hancur (broken home), atau tanpa adanya pengawasan dan didikan orang tua secara rutin, pasti akan sangat hancur.

Pasti diakui bersama juga bahwa, saat ini, penyebaran narkoba sudah hampir tidak bisa dicegah lagi. Hampir seluruh penduduk di dunia, narkoba didapat dengan mudah dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Misalnya, bandar narkoba yang senang mencari mangsa di kebanyakan sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat perkumpulan geng. Tentu saja, hal ini bisa membuat para orang tua, ormas, dan pemerintah, khawatir.

Pemberantas narkoba pun mungkin sudah sering dilakukan, namun masih saja ada oknum tertentu yang menyebarkan ke orang-orang dewasa, bahkan anak-anak usia sekolah dasar (SD), sekolah menengah, maupun perguruan tinggi. Khusus pelajar, penggunaan narkoba oleh sebagian besar pelajar, sudah sangat mengkwatirkan. Seperti, kata Agus Sutanto, Kepala Sub Direktorat Lingkungan Pendidikan BNN (https://tirto.id/19/07/2018; https://www.republika.co.id/19/07/2018), “27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia merupakan pelajar dan mahasiswa”.

Alasan Bernarkoba

Kalau kita baca cerita di atas, ternyata, itu hanya satu alasan orang memakai narkoba. Ternyata, masih ada banyak alasan lagi orang memakai narkoba (https://www.kompasiana.com/19/07/2018;http://www.organisasi.org/19/07/2018; https://novacainee.wordpress.com/19/07/2018). Beberapa alasannya antara lain, pertama, alasan ingin terlihat gaya. Zat terlarang jenis tertentu dapat membuat pamakainya menjadi lebih berani, keren, percaya diri, kreatif, santai, dan lain sebagainya. Efek keren yang terlihat oleh orang lain tersebut dapat menjadi trend pada kalangan tertentu sehingga orang yang memakai zat terlarang itu akan disebut trendy, gaul, modis, dan sebagainya. Jelas bagi orang yang ingin disebut gaul oleh golongan/ kelompok itu, ia harus memakai zat setan tersebut.

Kedua, alasan solidaritas Kelompok. Suatu kelompok orang yang mempunyai tingkat kekerabatan yang tinggi antar anggota biasanya memiliki nilai solidaritas yang tinggi. Jika ketua atau beberapa anggota kelompok yang berpengaruh pada kelompok itu menggunakan narkotik, maka biasanya anggota yang lain baik secara terpaksa atau tidak terpaksa akan ikut menggunakan narkotik itu agar merasa seperti keluarga senasib sepenanggungan.

Ketiga, alasan ingin tahu atau coba-coba. Dengan merasa tertarik melihat efek yang ditimbulkan oleh suatu zat yang dilarang, seseorang dapat memiliki rasa ingin tahu yang kuat untuk mencicipi nikmatnya zat terlarang tersebut. Jika iman tidak kuat dan dikalahkan oleh nafsu bejad, maka seseorang dapat mencoba ingin mengetahui efek dari zat terlarang. Tanpa disadari dan diinginkan orang yang sudah terkena zat terlarang itu akan ketagihan dan akan melakukannya lagi berulang-ulang tanpa bisa berhenti.

Keempat, alasan ikut-ikutan. Orang yang sudah menjadi korban narkoba mungkin akan berusaha mengajak orang lain yang belum terkontaminasi narkoba agar orang lain ikut bersama merasakan penderitaan yang dirasakannya. Pengedar dan pemakai mungkin akan membagi-bagi gratis obat terlarang sebagai perkenalan dan akan meminta bayaran setelah korban ketagihan. Orang yang melihat orang lain asyik pakai zat terlarang bisa jadi akan mencoba mengikuti gaya pemakai tersebut termasuk menyalah gunakan tempat umum.

Kelima, alasan menonjolkan sisi berontak/ kehebatan. Seseorang yang bandel, nakal atau jahat umumnya ingin dilihat oleh orang lain sebagai sosok yang ditakuti agar segala keinginannya dapat terpenuhi. Dengan zat terlarang akan membantu membentuk sikap serta perilaku yang tidak umum dan bersifat memberontak dari tatanan yang sudah ada. Pemakai yang ingin dianggap hebat oleh kawan-kawannya pun dapat terjerembab pada zat terlarang.

Keenam, alasan merasa dewasa. Pemakai zat terlarang yang masih muda terkadang ingin dianggap dewasa oleh orang lain agar dapat hidup bebas, sehingga melakukan penyalah gunaan zat terlarang. Dengan menjadi dewasa seolah-olah orang itu dapat bertindak semaunya sendiri, merasa sudah matang, bebas orangtua, bebas guru, dan lain-lain.

Banyak alasan yang di atas, memang berbeda-beda. Namun, umumnya merupakan interaksi beberapa faktor risiko yang mendukung yaitu faktor individu dan lingkungan. Banyak yang berpengaruh pada faktor individu seperti kurang percaya diri, kurang tekun dan cepat merasa bosan atau jenuh. Rasa ingin tahu dan ingin mencoba, mengalami depresi, cemas atau persepsi hidup yang tidak realistis. Juga kadang-kadang dipakai sebagai simbol keperkasaan atau kemodernan di samping penghayatan kehidupan beragama sangat kurang. Pengaruh lingkungan yang berbahaya adalah mudah diperolehnya narkoba, hubungan antar keluarga tidak efektif dan harmonis disertai kondisi sekolah yang tidak tertib atau berteman dengan pengguna narkoba.

Oleh karena itu, dengan adanya pengetahuan dari uraian essai ini, adanya pemahaman yang baik dari pembaca, khususnya pelajar. Mengapa, yang lebih ditekan cuma pelajarnya? Karena menurut Agus Sutanto, Kepala Sub Direktorat Lingkungan Pendidikan BNN (https://tirto.id/19/07/2018; https://www.republika.co.id/19/07/2018), “27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia merupakan pelajar dan mahasiswa”. Jika ini dibiarkan maka, hancurlah bangsa Indonesia.

Maka dari itu, perlu ada nada, dan aksi yang sama dalam bahu membahu mengatasi persoalan ini. Hal pertama, keluarga harus menciptakan keluarga yang aman dan nyaman sehingga anak juga bisa nyaman di rumah; kedua, sebagai keluarga/ sahabat yang baik bagi pecandu, agar memberikan pemahaman yang baik/ solusi yang baik; ketiga, mungki, kalau pecandu sudah sangat tercandu, ya, mengantar meraka ke panti rehabilitas, atau psikiater terdekat untuk dicarikan jalan keluar; keempat, semua kita harus menciptakan lingkungan baru yang bersih dari narkoba, dan, kelima, pemerintah melalui undang-undang harus bertindak secara terus-menerus dan tegas membasmi penyalahgunaan narkoba agar berjalan sesuai dengan tuntutan UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU No.22 tahun 1997 tentang Narkotika.

Problema yang dihadapi oleh pemakai narkoba memang sulit diatasi. Walaupun sulit, tapi harus bisa dilakukan. Semoga cerita singkat di atas bisa menjadi pelajaran bagi kita semua yang menyempatkan diri untuk membaca kisah ini. Ini adalah kisa kehancuran pertama dari seorang kakak kompleksku (kakaknya Hasniati-red). Sekali lagi disampaikan, jangan pernah coba-coba dengan narkoba. Jika sekali mencoba, ya, masa depan kita menjadi gelap, dan hidup kita menjadi tidak tenang. Narkoba itu menghancurkan segalanya. Narkoba itu adalah racun yang membawa kita dalam dunia kerusakan. Dan kita harus menggelorakan motto dan bersuara lantang, drugs, no. Study, yes!

*Opini: kedua penulis, tinggal di Alor, NTT.