Ditjen Kebudayaan Bantu Revitalisasi Rumah Adat Bampalola di Alor

0
606

Penyerahan mahkota atap rumah dari Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Christriyati Airiani, kepada tetua adat desa, untuk dipasang.

KALABAHI, TRIBUANAPOS.Com – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, beri bantuan revitalisasi delapan rumah adat di Desa Bampalola, Kecamatan Alor Barat Laut (ABAL), Alor, NTT.

Kegiatan tersebut merupakan program revitalisasi desa adat, yang dicanangkan Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi tahun 2018.

Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Christriyati Airiani, mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Bampalola, karena bantuan yang diberikan dimanfaatkan secara baik.

“Kami berterima kasih kepada masyarakat di desa (Bampalola) ini, karena bantuan yang kami berikan dilaksanakan dengan baik,” ujar Christriyati, dalam sambutannya di acara itu, Selasa, (20/11/2018) di kampung adat Bampalola, Alor.

Dirinya mengaku bangga karena bisa hadir di Kabupaten Alor, Provinsi NTT dan menyaksikan lansung pengatapan rumah adat Bampalola.

“Kami bangga bisa menyaksikan pemasangan mahkota rumah adat ini,” kata Christriyati, disambut aplaus meriah dari warga desa setempat.

Ia berharap, warga Desa Bampalola, bisa memelihara rumah adat tersebut, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokalnya.

“Kami hanya bisa pesan kepada bapak/ibu semua, tolong jaga rumah adat ini. Hidupkan kembali kearifan-kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di desa ini,” harapnya.

Christriyati menjelaskan, meskipun dirinya baru pertama kali datang ke Desa Bampalola, dia temui desa itu memiliki nilai-nilai budaya yang sangat tinggi. Karena itu ia himbau agar nilai adatiah tersebut, merupakan kekayaan bangsa yang perlu diwariskan kepada generasi penerus.

“Dan tentunya (di desa ini memiliki) nilai-nilai yang sangat bermakna tinggi yang tidak dijumpai oleh daerah lain. Kami yakin nilai gotong royong di desa ini sangat luar biasa,” kata dia, sembari menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, karena sibuk.

Christriyati bersyukur bisa tiba di Alor dan menyaksikan kehidupan kerukunan dan semangat gotong royong masyarakat adat di Desa Bampalola.

“Tadi kami datang, banyak tangan-tangan yang membantu kami melewati jalan-jalan yang bebatuan. Bukan main. Semangat gotong royongnya luar biasa. Ini pengalaman saya yang mengesankan karena di Jakarta tidak ada begitu,” ungkapnya sambil berkisah tentang sulitnya akses jalan menuju Desa Bampalola, karena ruas jalan itu luput dari perhatian Bupati dan Wakil Bupati Alor, Amon Djobo-Imran Duru.

Kadis Kebudayaan NTT, Sinun Petrus Manuk, berpesan pula agar masyarakat menjaga rumah ada secara baik. Sebab, rumah adat merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai budaya, kerukunan, gotong royong dan semangat persatuan yang besar. Ia pun berpesan agar masyarakat tetap menjaga keaslian rumah adat.

“Jaga dan rawat kampung ini baik-baik. Kenapa saya bilang begini karena tahun lalu di Sumba Barat, ada kampung adat Tarung terbakar. Tahun 2018 ini ada 3 kampung adat terbakar; kampung adat guru sina di Ngada. Berikut lagi kampung adat Bondo Maroto Sumba Barat dan kampung adat Ngela di Ende. Maka jaga baik-baik kampung adat. Ini warisan leluhur yang tidak boleh disia-siakan. Karena bukan soal rumahnya, tetapi ini soal segala hal yang terkait dengan kampung dan rumah adat,” pungkasnya, seraya apresia bantuan Kemendikbud RI.

Secara terpisah, Ketua Revitalisasi Desa Adat Bampalola, Majid Adang, mengaku bersyukur atas bantuan Kemendikbud merevitalisasi 8 rumah adat Desa Banpalola.

“Tentu kami bersyukur. Karena tahun 2018 ini kami peroleh bantuan dari Kemendikbud, Rp.399.870.175, dari total anggaran Rp. 450 juta yang kami usul. Realisasi bantuan itu untuk pembangunan 8 unit rumah adat di sini (Bampalola),” jelasnya.

Dia bertutur, Rumah adat Desa Bampalola dibangun tahun 1989. Direhab atapnya pada tahun 2014. “Tidak semua direhab total. Karena usianya yang sudah tua jadi tahun ini dengan bantuan yang ada kami usul dan direhab total. Yang jelas kami apresiasi dan terima kasih kepada Kemendikbud RI,” cetusnya.

Majid bilang bahwa, dengan bantuan tersebut, dapat mengangkat kembali nilai budaya kampung 10, 3, 7 untuk generasi mendatang.

Sementara Asisten II Setda Alor Dominggus Asadama, menyampaikan apresiasi atas kehadiran rombongan Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, di Alor.

Dominggus juga mengucapkan terima kasih atas kepedulian Kemendikbud RI, karena sudah membantu program revitalisasi 8 unit rumah adat di Desa Bampalola.

“Atas nama pemerintah daerah, kami ucapkan terima kasih kepada Kemendikbud RI karena sudah membantu program revitalisasi rumah adat di desa ini. Saya yakin ibu Christriyati suatu saat akan jadi Ditjen,” pungkas As II Dominggus.

Hadir di acara itu, staf khusus Dirjenbud Rinto Tri Hasworo, dan staf Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Bimo Haryo Yudhanto dan Nadya Maharani.

Hadir pula, Kadis Kebudayaan Alor Sem Fankari, Sekretaris Dinas Kebudayaan Alor Yunus Adifa, Kabid Bahasa dan Seni Abraham M. J. Panduwal dan staf, perwakilan Polres Alor, Kasat Pol PP Jhon Pulingmahi, Plt. Camat ABAL Debrina Lelang, SE, para Kades serta undangan lainnya. *(dm).