Akademisi UNTRIB Sebut Ekonomi Terpuruk, Karena Potensi Alor Tidak Digarap

0
620

Dosen Fakultas Ekonomi UNTRIB Ferdinand Anigomang, MM.

@Kalabahi | Tribuanapos.com – Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tribuana (UNTRIB) Kalabahi, Ferdinand Anigomang, MM, menyebut, ekonomi Alor terpuruk karena potensi sumber daya alam tidak digarap.

Hal itu disampaikan Ferdinand menanggapi predikat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Alor yang terpuruk di urutan 22 dari 22 Kabupaten/Kota di NTT. Data tersebut di realis BPS Provinsi NTT tahun 2017. Ekonomi Nusa Kenari anjlok di tahun 2014, 2015 dan 2016.

“Alor kaya potensi SDA. Kita belum garap secara baik. Kan kita punya hasil perkebunan komoditi: kopi, kemiri, vanili, cengkeh, kopra, cendana, belum dikelola saja,” ujar Ferdinand, saat ditemui wartawan di Kalabahi, Senin, (2/4/2018), sore.

Dirinya menjelaskan, selain sektor Perkebunan, sektor Pertanian pun belum dikelola pemerintah. “Pertanian kita masih stagnan. Berdasarkan data BPS kan produksi pertanian kita berkurang, padahal itu sebagai penyumbang PDRB kita,” ucapnya.

“Beras kita produksi turun dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Produksi Holtikultura kita pun tidak mengalami peningkatan. Cth. Bawang dan sayur, kita masih impor dari daerah lain,” kata Ferdinand yang juga dosen ekonomi mikro itu.

Menurutnya, sektor perikanan dan kelautan juga belum dikelola secara baik. Disamping itu, sektor pariwisata pun belum dikelola.

“Potensi laut Alor menyimpan segudang manfaat ekonomi, ada sektor pariwisata dan perikanan ini harus dikelola. Ikan, rumput laut dan kekayaan lain di laut, harus digenjot. Sebab ini punya nilai ekonomi yang besar untuk masyarakat kita berprofesi nelayan,” cetusnya, sembari meminta agar produksi daging kita pun bisa didorong.

Dia berpendapat, selain sektor-sektor tersebut di atas, pemetintah juga belum mendorong sektor ekomomi mikro. Banyak usaha ekonomi produktif kita yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, belum didorong.

Strategi peningkatan perekonomian suatu daerah kata Ferdinand, adalah SDM, SDA, Teknologi, dan Modal, perlu diperhatikan.

“Kalau SDM kita profesional, maka saya percaya ekonomi kita membaik. Lalu SDA di atas. Potensi Alor ini semua tersedia. Tinggal kita pandai mengelola saja,” jelas Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Budi Luhur Jakarta itu.

Ferdinand menjelaskan disamping, SDM dan SDA, peran teknologi (mesin) dan modal juga sangat penting.

“Seberapa besar kemampuan kita mengelola teknologi. Kita punya bahan baku kopi, vanili, kemiri, ikan. Nah bagaimana kita bisa mengola jadi bahan jadi baru dijual. Kan harganya tentu lebih baik. Tinggal kita menyediakan akses modal yang bisa dijangkau masyarakat kecil, maka itu akan sangat membantu,” pungkasnya.

Ia menyarakan agar pemerintah daerah bisa bekerja sama dengan seluruh stakeholder agar potensi kita bisa dikelola. Sebab, menurutnya Alor adalah Kabupaten tua di NTT, seharusnya sudah lebih maju dari Sabu Raijua dan daerah lain di NTT.

“Semua pihak harus dilibatkan. Ada LSM, lembaga-lembaga profit dan lembaga ekonomi, agama, swasta, kampus, harus didorong. Ini yang perlu dipikirkan oleh para pengambil kebijakan di Alor. Prinsipnya kita harus mendorong potensi kita, serta menjaga produksi secara kualitas, kuantitas dan kontinyuitas. Juga menyediakan pasar yang layak. Jika itu diperhatikan maka saya yakin masyarakat kita akan sejahtera,” tutup Ferdinand.

Sebelumnya diberitakan, pertumbuhan ekonomi Alor anjlok di urutan 22 dari 22 Kabupaten/Kota di NTT. Pemerintahan Amon Djobo-Imran Duru, dianggap gagal membawa Alor menuju kesejahteraan. Kini paket AMIN itu maju lagi di Pilkada Alor 27 Juni 2018, melawan Dr. Imanuel E Blegur dan Haji Taufik Nampira (paket INTAN).  *(dm).