BPS NTT: Ekonomi Alor Tahun 2016 Terendah Dari 22 Kabupaten/Kota di NTT

0
1018

Drs. Amon Djobo dan Imran Duru, Bupati dan Wakil Bupati Alor Periode 2014-2019. Kini paket incumbent itu maju lagi di periode kedua dalam Pilkada 27 Juni 2018.

@Kalabahi | Tribuanapos.com – Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, tahun 2017 lalu merilis data pertumbuhan ekonomi 22 Kabupaten/Kota di NTT. Data tersebut terbaca, Kabupaten Alor di tahun 2016, pertumbuhan ekonomi berada di urutan paling akhir (ke 22).

Dari data BPS tahun 2016 terlihat presentase angka pertumbuhan ekonomi Alor berada pada angka 4,55%. Peringkat satu masih dipegang Kota Kupang, dengan angka 6,74%.

Berikut data presentase pertumbuhan ekonomi seluruh Kabupaten/Kota di NTT:

Pertama terbaik, Kota Kupang 6,74%, disusul Kabupaten Belu 5,73%, Manggarai Timur 5,20%, Ngada 5,19, Sabu Raijua 5,16%, Manggarai 5,09, Ende 5,06%, Sumba Timur 5,05%, Malaka 5,01, SBD 5,01, Rote Ndao 5,00%.

Kabupaten Kupang 4,99%, Sumba Barat 4,98%, TTU 4,87%, Sikka 4,87%, TTS 4,86, Sumba Tengah 4,82, Flotim 4,76%, Manggarai Barat 4,76, Lembata 4,71%, Nagekeo 4,59, dan yang terakhir Kabupaten Alor 4,55%.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun 2015, Alor terpuruk lagi pada angka 4,21%. Berada di posisi ke 21 dari 22 Kabupaten/Kota di NTT. Setelah Alor, Manggarai Barat 4,14%. Kota Kupang masih di posisi pertama 6,95%, disusul Belu 5,49% dan Ende 5,29%.

Pada tahun 2014, Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Alor 4,40%. Ada di urutan 18 dari 22 Kabupaten/Kota. Kota Kupang tetap masih peringkat pertama dengan angka 6,98%.

Tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Alor 4,24%. Disusul Sikka 4,20%. Alor masih stagnan di urutan ke 21 dari 22 Kabupaten/Kota di NTT.

Sumber: BPS NTT.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bapelitbang Alor Marthen Hitikana, menjelaskan, fluktuasi angka pertumbuhan ekonomi Alor disebabkan banyak faktor.

“Naik turun itu banyak faktor. Ada pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor jasa. Lahan kita cukup luas tetapi tenaga kerja kita yang ada di wilayah daerah pertanian, cenderung lari ke kota. Cth. Mereka ke kota untuk ojek. Makanya sektor pertanian (sebagai penyumbang terbesar ekonomi Alor) relatif turun,” ujar Marthen saat dihubungi wartawan, Sabtu, (31/3/2018) di Kalabahi.

Faktor yang berikut kata Marthen adalah, adanya budaya pola hidup masyarakat yang cenderung konsumtif. “Dia dapat apa, dia makan hari ini, ya cukup. Tidak bisa menabung untuk kegiatan-kegiatan usaha produktif,” ucapnya.

Menurutnya, faktor yang lain lagi adalah, potensi SDM orang Alor yang masih relatif rendah dalam mengelola potensi SDA.

“Masih kaitannya dengan pergeseran tenaga kerja tadi (dari pertanian ke ojek) itu. Tenaga kerja kita masih relatif rendah dalam hal mengelola potensi SDA kita di Alor,” jelas Marthen.

Dia menyebut, potensi SDA Alor yang melimpah ini, belum memberikan jaminan pertumbuhan ekonomi, kalau SDM belum baik.

“Belum ada jaminan kalau potensi sumber daya manusia kita yang ada sekarang, tidak berkualitas. Kita lebih banyak duduk di jalan, ketimbang mengelola lahan (pertanian) yang ada,” katanya.

Meski begitu Marthen mengaku pemerintah tetap mendorong sektor-sektor riil untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

“Kita tetap mendorong sektor-sektor yang ada, terutama sektor pertanian. Tahun ini kita alokasi dana lagi ke Desa sebesar Rp. 350 juta/Desa. Semua dana itu akan diperuntukan untuk mengelola ekonomi masyarakat. Harapannya ekonomi masyarakat kita bisa tumbuh dengan baik,” pungkas pria asal Sumba itu.

Terpisah Ketua DPRD Alor Martinus Alopada, mengatakan, penurunan pertumbuhan ekonomi disebabkan karena pemerintah tidak cermat mengelola potensi sektor riil.

“Sektor pertanian, perkebunan, pangan, itu yang harus kita (pemerintah) kelola supaya bisa tingkatkan ekonomi masyarakat. Saya melihat ini belum didorong secara maksimal dan terukur,” ucapnya.

Martinus mengakui, banyak lahan pertanian, perkebunan, pariwisata dan ekonomi kreatif belum digenjot secara baik.

“Lahan tidur kita banyak yang belum dikelola. Kita masih datangkan bawang merah, cabai dan sayur dari luar. Saya harap kedepan kita bisa genjot,” cetusnya.

Walau begitu, Martinus menegaskan, dari sisi anggaran, DPRD siap menerima usulan pemerintah untuk menggenjot semua sektor, terutama sektor pertanian.

“Oh kita (DPRD) siap (dukung anggaran), kalau ada usulan dari pemerintah. Ini kan untuk kepentingan rakyat, tentu kita harus dukung dari sisi anggaran,” pungkas Martinus.

Data BPS Alor tahun 2017 menyebut, angka pertumbuhan produksi pertanian dan sektor-sektor produksi perkebunan, lesu. Hal tersebut menyebabkan angka pertumbuhan ekonomi Alor berada di urutan paling akhir se-provinsi NTT. *(dm).