Pakar Hukum, Lukas Atalo, SH.

KALABAHI, TRIBUANAPOS.comĀ – Pakar Hukum, Lukas Atalo, SH, optimis gugatan praperadilan pemohon Ketua DPC PDIP Alor, Enny Anggrek ditolak Hakim Pengadilan Negeri Kalabahi, Alor, NTT. Sebab mekanisme penetapan tersangka oleh penyidik polres adalah sah sesuai mekanisme hukum.

“Saya optimis, gugatannya (Enny Anggrek) ditolak Hakim saat sidang putusan besok (8/8). Saya melihat penyidik polres sangat profesional menetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka. Semua proses (penetapan tersangka) sudah sesuai prosedur hukum, baik menurut KUHAP, KUHP dan SOP polisi,” ujar Lukas.

Menurut Lukas, polisi dinyatakan bersalah jika tidak punya dua alat bukti yang cukup dalam penetapan tersangka, terjadi salah penangkapan, atau salah dalam mekanisme penyidikan. “Saya melihat itu tidak ada. Menurut saya penetapan tersangka saudara Enny Anggrek sudah sah menurut hukum,” kata pengacara muda itu.

Meski begitu, dirinya berharap, Hakim dapat memutuskan perkara tersebut berdasarkan fakta-fakta sidang. “Saya ikuti sidang. Saya pastikan polisi menang praperadilan besok,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Enny Anggrek resmi ditetapkan tersangka oleh penyidik Polres Alor. Penetapan tersangka itu terkait kasus dugaan fitnah kepada Efraim Kolly tahun 2014 lalu.

Dalam jumpa pers di Kantor DPC PDIP Alor tahun 2014, Enny diduga mengatakan Efraim Kolly adalah warga pantar termiskin. Efraim merasa itu fitnah yang keji, hingga melaporkan Enny ke polisi. Polisi akhirnya menetapkan Ketua DPC PDIP Kabupaten Alor itu sebagai tersangka pekan lalu. (*Demas Mautuka).